-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Mobil berhenti perlahan di depan gedung apartemen Giselle.
Lampu lampu kota mulai menyala, menyiram jalanan dengan cahaya keemasan. Di dalam mobil, keheningan tidak pernah terasa semanis ini.
Jeno menggenggam tangan Giselle, jemari mereka terjalin erat di atas paha Giselle yang tertutup celana jeans gelap. Tak ada yang berbicara, tapi keduanya sama-sama tersenyum bodoh. Saling pandang, lalu sama-sama memalingkan wajah karena malu sendiri.
"Ini hari yang gila" gumam Giselle pelan nyaris seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri
Jeno menoleh dan menyentuh pipinya dengan lembut. "Kalau itu gila, aku ingin gila setiap hari asal bersamamu"
Giselle mendecak pelan sambil menahan tawa, tapi sorot matanya melembut. Ia meraih tangan Jeno dan menggenggamnya erat. "Terima kasih untuk hari ini"
"Kalau begitu" Jeno memiringkan wajahnya sedikit, "bolehkah aku dapat bonus?"
"Bonus apa-"
Belum sempat selesai, Jeno sudah mencium bibirnya. Ringan. Lembut. Dan terlalu manis untuk ditolak. Giselle menutup mata, membiarkan dirinya terbuai.
Jeno menekan tengkuk Giselle agar ciuman mereka semakin dalam, sungguh ia benar benar tak ingin melepaskan wanitanya lagi, Giselle adalah miliknya.
Ciuman itu tak berlangsung lama, karena Giselle mulai menepuk bahu Jeno pelan. Dengan berat hati Jeno melepaskan tautan mereka.
Giselle menatap tajam ke arah Jeno dan sang empu hanya mampu menunjukan deretan giginya, "Maaf aku kelepasan"
Giselle memutar bola matanya, "Aku harus segera masuk"
Jeno mengangguk paham sebelum akhirnya turun dan membukakan pintu mobil untuk Giselle seperti biasa.
"Aku akan masuk, kau hati hati di jalan" ucap Giselle
Jeno mengangguk, "Akan aku kabari jika nanti sudah di rumah"
Giselle mengangguk dan bersiap melangkah pergi, namun baru beberapa langkah Jeno kembali menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat.
"Jeno..."
Jeno menggeleng dan mengeratkan dekapannya, "Tidak, tidak. Rasanya aku tidak ingin berpisah darimu, aku ingin selalu bersamamu"
"Hei kita masih bisa bertemu besok kan?" Giselle mengusap punggung Jeno lembut
"Tidak, besok itu terlalu lama aku tidak bisa. Kenapa tidak menginap di tempatku saja? atau aku saja yang menginap di sini? aaa aku sungguh tidak ingin berpisah"
Giselle terkekeh mendengar rengekan Jeno, "Tidak bisa Jeno... lain kali saja hm?"
Jeno mendesah kecewa dan melepaskan pelukan mereka, "Janji?"
Giselle tersenyum dan mengangguk, "Janji"
Jeno kembali menarik Giselle dalam pelukannya, tersenyum sembari mengelus surai panjangnya, "Aku mencintaimu, dulu ataupun sekarang semuanya masih sama"
Giselle membelas pelukan Jeno, "Aku juga mencintaimu Jeno, dulu ataupun sekarang"
Keduanya larut dalam kehangatan masing masing, mereka saling memeluk erat sebagai salam perpisahan dan itulah momen paling tenang yang pernah mereka rasakan.
Namun...
"Aeri apa yang sedang kau lakukan?!!"
Suara berat dan tajam itu menghantam mereka bagaikan petir yang menyambar di tengah langit cerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
