63

337 52 25
                                        

-HURT-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Mentari pagi menyelinap lembut lewat tirai tipis kamar penginapan. Udara segar khas pedesaan masuk perlahan bersama aroma rumput basah dan embun yang masih menggantung di dedaunan. Di ruang makan sederhana, suasana belum terlalu ramai. Beberapa staf terlihat menguap sambil menggenggam cangkir kopi, sementara yang lain masih dalam perjalanan dari kamar masing-masing.

Giselle sudah duduk lebih dulu di salah satu meja dekat jendela. Rambutnya diikat sederhana, kulitnya terlihat segar meski tanpa riasan. Ia mengenakan sweater hangat dan celana panjang longgar, sederhana tapi tetap anggun.

Jeno muncul tak lama kemudian. Ia tak langsung menghampiri, hanya sekilas menatap Giselle dari kejauhan sebelum akhirnya mendekat setelah memastikan tak akan mengganggu.

"Selamat pagi" sapa Jeno dengan nada ringan

Giselle menoleh. Ia sempat terdiam beberapa detik, namun akhirnya mengangguk kecil. "Pagi"

"Tidurmu nyenyak?" Jeno bertanya lagi, kali ini lebih hati-hati

Giselle menyesap tehnya sebelum menjawab, "Cukup nyenyak, lebih baik dari malam sebelumnya"

Jeno tersenyum kecil. Ia menarik kursi dan duduk di seberang, menjaga jarak yang cukup. Percakapan mereka sederhana, tentang cuaca, jadwal pemotretan hari ini, dan rencana pulang keesokan harinya. Tapi yang terasa berbeda adalah suasananya. Tidak lagi setegang sebelumnya. Ada kehangatan yang mulai merayap diam-diam, walau belum benar-benar menetap.

Namun saat suasana mulai menghangat, ponsel Giselle tiba-tiba bergetar pelan. Ia mengangkatnya setelah melihat nama di layar.

"Woonbin" gumamnya pelan nyaris tak terdengar

Ia berdiri dari kursi, memberi isyarat kecil kepada Jeno sebelum melangkah keluar ke beranda kayu kecil di sisi penginapan. Udara pagi masih sejuk, dan ia menyandarkan punggung ke tiang kayu sambil mengangkat panggilan itu.

"Halo?" suaranya tenang

"Halo Aeri" Suara Woonbin terdengar hangat seperti biasa. "Aku tak mengganggumu, kan?"

"Tidak, aku baru selesai sarapan"

"Bagus. Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar di sana. Jadwalmu? Stafnya? Lokasi pemotretannya?"

"Semua baik. Pemotretan berjalan sesuai rencana" jawab Giselle singkat. "Kau bisa tenang"

"Dan kau sendiri?" tanya Woonbin lebih lembut. "Kau baik-baik saja?"

Giselle menunduk, menatap ujung sepatunya. "Aku... aku baik"

Hening beberapa detik.

"Kau yakin?"

Giselle mengangguk pelan, walau tahu Woonbin tak bisa melihat.

"Baik. Kalau begitu aku lega"

Tapi sebelum panggilan diakhiri, suara Woonbin kembali terdengar—lebih serius, lebih berat.

"Tapi Aeri... hati-hatilah dengan perasaanmu. Aku tau Jeno di sana. Aku tau dia pasti mengambil kesempatan sebanyak mungkin saat aku tak bersamamu."

Giselle menggigit bibir bawahnya.

"Aku tidak sedang bersamamu, Aeri. Jadi, pikirkan semuanya sebelum mengambil langkah. Aku tak ingin kejadian beberapa minggu lalu terulang lagi. Kau paham maksudku, kan?"

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang