49

917 77 28
                                        

-Hurt-

ʚ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Setelah kejadian malam itu, Aeri dan Jeno kembali tidak saling menyapa. Aeri yang merasa tidak berani untuk sekedar bicara dan Jeno yang sepertinya juga merasa tidak terlalu peduli.

Beberapa minggu pun sudah mereka lewati walaupun dengan keadaan rumah tangga yang tidak baik.

Hari ini adalah jadwal Aeri untuk memeriksa kandungannya yang saat ini sudah berusia tepat 4 bulan.

"Aegi hari ini kita bedua saja tidak apa kan? mungkin pemeriksaan selanjutnya papa akan ikut, tidak apa ya?" Aeri bergumam kecil sembari mengelus perutnya

Aeri melirik ke luar kaca jendela mobil, jalanan cukup sepi akibat hujan deras yang saat ini tengah mengguyur kota Seoul.

Tak lama mobil yang Aeri tumpangi berhenti.

"Nona kita sudah sampai, apa perlu aku temani hingga ke dalam?" tanya supir prbadi Jongin

"Tidak apa paman, aku bisa sendiri. Paman tunggu di sini saja" tolak Aeri

"Nona tapi di luar sedang hujan deras"

"Tidak apa paman, lagipula aku membawa payung" Aeri tersenyum dan kemudian segera turun dari mobil

Aeri berjalan dengan hati-hati masuk ke dalam lobby rumah sakit.

"Astaga ramai sekali" gumam Aeri

Aeri menggeleng kecil dan segera membenarkan masker dan juga topinya. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter yang sudah memiliki janji dengannya.

Namun sebelum sampai di sana, tanpa sengaja Aeri melihat seseorang yang tidak asing baginya berdiri tak jauh dari tempatnya.

Aeri menyipitkan matanya, melihat dengan lebih teliti seseorang yang kini tengah merangkul seorang wanita yang memakai baju pasien.

Aeri dengan ragu mencoba mendakati keduanya, ia sungguh tidak dapat melihat dengan jelas wajah keduanya karena Aeri berdiri tepat di belakang mereka.

Selangkah demi selangkah Aeri semakin mendekati keduanya, saat tangannya terulur untuk menyentuh bahu salah satunya seseorang memanggil namanya.

"Aeri?"

Aeri tersentak dan otomatis menoleh.

"Ah dokter, annyeonghaseyo" Aeri tersenyum manis dan sedikit membungkuk sopan

"Aeri sudah ku bilang panggil aku eonni saja"

"A-ah maaf eonni"

"Nah seperti itu, kenapa berdiri di sini?"

"Tadi aku seperti melihat teman ku, tapi sepertinya aku salah lihat"

"Hm begitu, mungkin terlihat mirip saja. Ah ya, ngomong-ngomong kau datang bersama siapa? kemana suami mu?"

Aeri terdiam sejenak, sungguh ia tidak tahu ingin berkata apa sekarang.

Diamnya Aeri seolah membuat sang dokter mengerti, "sedang sibuk ya? tidak apa, itu tidak akan mengurangi kebahagian mu hari ini"

Aeri tersenyum kikuk, "k-ku harap seperti itu"

"Tentu saja seperti itu! yasudah ayo ke ruangan ku" Sang dokter tersenyum dan merangkul Aeri

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang