46

799 67 9
                                        

-Hurt-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

"Jeno tolong katakan pada dady dan appa untuk memberi ku waktu sedikit lagi. Ku mohon aku masih ingin belajar di sekolah normal"

Jeno hanya dapat terdiam saat perempuan mungil di dalam pelukannya kini mulai terisak kecil.

Setelah Jeno memberi tahu keadaan Aeri pada kedua orang tua mereka, ketiganya sontak langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat langsung bagaimana keadaan Aeri.

Dan ya setelah mengetahui tentang apa yang terjadi pada menantunya itu, Donghae memutuskan untuk mempercepat menantunya itu belajar di rumah. Donghae memutuskan agar Aeri memulai home schooling saja setelah keluar dari rumah sakit nanti.

Aeri yang mendengar itu menolak keras, namun Jongin malah mendukung keputusan besannya itu.

"Sayang yang dikatan dady benar, sepertinya lingkungan sekolah mu terlalu berbahaya untuk dirimu dan aegi. Kau bahkan belum lama masuk rumah sakit dan sekarang kau kembali lagi ke rumah sakit, menurut saja ya"

Begitulah kurang lebih yang di katakan oleh appa nya yang membuat Aeri semakin terpojok dan satu-satunya harapan Aeri sekarang tak lain adalah suaminya, Aeri akan berusaha membujuk Jeno agar laki-laki itu mau membantunya.

"Sayang sudah jangan menangis, nanti perut mu sakit lagi" Jeno mencoba menenangkan istri manisnya

"Hiks... Jeno tidak mau! aku masih ingin sekolah.. hiks.. ayo bujuk dady mu"

"Sayang kau tau betul dady seperti apa, aku tidak yakin dia akan-"

"Kau bilang mencintaiku! tapi hanya diminta membujuk dady untuk ku saja tidak mau... hiks... kau tidak mencintaiku lagi Jen... aku membencimu! hiks... aegi papa tidak sayang mama lagi... hiks..."

Jeno menghela nafas lelah, Aeri memang begitu sensitif sekarang. Bisa-bisanya ia mengatakan hal tidak masuk akal itu.

"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak pada anak kita Aeri. Baiklah aku akan bicara pada dady dan appa agar memberimu waktu sedikit lagi"

Aeri langsung menghentikan tangisnya dan mendongak menatap suaminya yang kini meliriknya.

"Benarkah? kau mau? aaa terimakasii Jeno" Aeri kembali memeluk Jeno dengan erat

Jeno tersenyum kecil kemudian membalas pelukan Aeri, bahkan bangsal yang tak terlalu besar ini begitu nyaman untuk keduanya.

"Tapi tidak gratis"

Aeri langsung kembali mendongak ketika mendengar bisikan dari suaminya.

"A-apa maksudmu?"

Jeno tersenyum miring dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang masih terlihat pucat itu.

Aeri yang melihat itu langsung menutup matanya rapat-rapat dan sedetik kemudian ia dapat merasakan bibir Jeno yang menyentuh bibirnya.

Jeno mencium Aeri dengan begitu lembut, hingga sang empu kini mulai meremas kecil bagian belakang kepala Jeno.

Astaga sebenarnya darimana Aeri belajar hal seperti ini? bahkan kini Aeri sudah dapat mengimbangi permainan Jeno.

Jeno melepas tautan keduanya dan mengelap saliva yang tertinggal di bibir istrinya dengan ibu jarinya.

"Kau semakin pandai, kira-kira kau belajar darimana ya?" Jeno mengetuk dagunya seolah sedang berpikir

Aeri memalingkan wajahnya yang sudah memerah sekarang.

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang