61

347 55 39
                                        

-HURT-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menembus jendela apartemen saat Giselle bersiap di depan cermin. Rambutnya sudah tersisir rapi, dan riasan wajah mulai ditata perlahan oleh tangan profesional dari tim make-up. Ia tampak tenang. Bahkan terlalu tenang.

Di sisi ruangan, Woonbin berdiri sambil menyilangkan tangan, menatap Giselle dari pantulan cermin. Matanya tajam, namun tidak memaksa hanya menyiratkan kekhawatiran yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Kau yakin masih ingin datang hari ini?" Suaranya dalam dan berat

Giselle tersenyum tipis di depan pantulan kaca, tapi tidak menoleh. "Pekerjaan harus tetap berjalan"

"Setelah yang terjadi kemarin, setidaknya istirahat sehari saja tak akan membuat dunia runtuh"

Giselle menoleh pelan, menatap pria itu.

"Kau bersamaku kan?"

"Iya"

"Kalau begitu, tidak akan ada yang perlu dikhawatirkan"

Woonbin terdiam. Ia tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Ia masih ingin membantah. Masih ingin menahan. Namun di balik senyum kecil Giselle, ia tahu wanita itu tak akan mau dikurung oleh rasa takut.

Beberapa jam kemudian, lokasi pemotretan sudah ramai. Lampu studio menyala terang, alat-alat teknis disusun rapi, dan tim produksi tampak bekerja tanpa henti.

Giselle berdiri di depan latar putih, mengenakan pakaian musim gugur berwarna netral. Setiap gerakannya presisi, setiap sudut wajahnya diposisikan dengan sempurna.

Di mata semua orang, ia adalah model ideal. Tak tergoyahkan.

Namun tidak ada yang tahu bahwa setiap beberapa menit, matanya melirik ke pintu masuk ruangan. Sekilas. Cepat. Tapi terlalu sering untuk disebut kebiasaan.

Jeno belum muncul. Bahkan hingga sesi kedua dimulai.

Giselle seharusnya lega. Tapi justru kegelisahan menggerogoti pikirannya diam-diam. Bukan karena takut. Tapi karena... ia khawatir.

Ia membenci pikirannya sendiri karena mengkhawatirkan orang yang semalam nyaris menghancurkannya lagi. Tapi logikanya tidak bisa membendung rasa itu.

Beberapa langkah di belakang set, Woonbin tetap berdiri dalam diam. Tangannya memegang tablet jadwal, matanya sesekali menatap ke arah Giselle dengan cermat. Ia memperhatikan segalanya, bahkan hal sekecil tarikan napas yang berbeda dari biasanya.

Di sudut studio, dua staf NovaTech berdiri sambil membolak-balik dokumen logistik. Suara mereka pelan, namun cukup terdengar di tengah jeda pemotretan.

"Aku pikir Lee sajangnim akan datang hari ini?" bisik salah satunya

"Dia datang ke kantor pagi-pagi tadi, tapi beberapa staff mengatakan jika dia sempat pingsan karena sedang demam tinggi. Disarankan pulang, tapi tetap memaksa bekerja"

"Serius? Wah, dia keras kepala juga ternyata"

Giselle, yang baru saja selesai berganti outfit untuk set berikutnya, tidak sengaja mendengar percakapan itu.

Langkahnya terhenti. Napasnya tercekat sepersekian detik. Tapi ia segera mengatur wajahnya kembali.

Ia tidak berkata apa-apa. Tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia hanya berjalan ke arah set pemotretan berikutnya seolah tidak ada yang berubah.

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang