18. Restless

6.9K 532 15
                                        

Happy reading!!!!









Di lapangan sudah berkumpul para anak desa yang sering bermain dengan Deva. Totalnya sekitar 14 anak termasuk Deva dan dua sahabatnya.

"Cika tunggu dipinggir ya sama om Jo" kata Deva, Cika hanya menuruti sebab dirinya tidak mau jika terkena bola kecil berwarna hijau itu.

Kelompok Deva kalah dalam suit membuatnya harus berjaga. Empat orang berjaga didepan dengan dibagi kanan dan kiri di tiga titik, dua orang berjaga di luar garis berjaga jika bola melambung jauh, sedangkan Deva menjaga titik terakhir sendirian.

"Pukul yang jauh den" kata Farhan yang menjadi lawan dari Deva.

Bola dipukul dan melambung jauh sesuai perkiraan. Banu yang berjaga diluang garis bersiap lari mengikuti arah bola jatuh, ketika sudah ditangkap bola itu di tempat ke teman kelompoknya. Sedangkan yang memukul dari kelompok lawan berusaha lari sekuat tenaga untuk sampai ke titik akhir dan harus kembali lagi ke titik awal agar bisa mendapat poin.

Dikarenakan tidak memungkinkan untuk sampai titik akhir, Dendi hanya bisa sampai titik kedua sebab bola sudah kembali. Dirinya tidak boleh sampai terkena bola atau timnya akan kalah.

Bola akan dipukul lagi, kini giliran Farhan yang akan memukulnya.

"Jaga-jaga" seru Banu, sebagai lawan tim adiknya.

Farhan memukul bola tidak sampai keluar garis membuat tim Deva mudah untuk menangkap bola.

"Dev, lempar ke Dendi" seru teman setimnya yang melemparkan bola pada Deva dan diterima baik oleh Deva. Tanpa menunggu Deva langsung melempar bola itu hingga mengenai tim lawannya.

"YES!" seru mereka semua senang. Kini giliran tim Deva yang akan memukul bola, sedangkan tim Farhan akan menjadi penjaganya.

Permainan itu berulang kali dimainkan. Joseph yang melihat permainan tuan mudanya merasa resah, apalagi ketika tuan mudanya itu terkena lemparan bola. Ingin menghentikan, Joseph melihat raut bahagia tuan mudanya membuatnya tidak tega, namun jika tidak dihentikan Joseph takut tuan mudanya kesakitan.

"Om, temenin Cika beli minum" Cika menarik celana hitam Joseph. Bukannya Cika tidak bisa pergi sendiri, tapi melihat orang dewasa disebelahnya ini sangat berisik membuat Cika lelah. Sejak awal permainan Joseph terus mengatakan 'hati-hati tuan muda' atau 'awas tuan muda', huh bikin pusing saja, pikir Cika.

"Ayooo"

Joseph pasrah, dirinya tidak ingin dikatai macam-macam karena membuat anak kecil menangis.

Sesampainya di warung, Cika memilih jajanan coklat bertabur kelapa yang memiliki kemasan berwarna biru. Ia ingin memberikannya pada Deva.

Joseph juga membeli beberapa botol air mineral untuk anak-anak yang sedang bermain. Sebenarnya ada beberapa jenis minuman dingin disana, namun Joseph tidak memilihnya sebab mengandung banyak gula, jadi air mineral adalah pilihannya.

Saat kembali ke lapangan, permainan sudah selesai. Mereka tengah beristirahat dibawah pohon, keringat membasahi tubuh mereka.

"Kakak Deva, Aa'" seru Cika mendekati ketiganya.

"Cika dari mana?" Tanya Banu.

"Cika habis dali walung beli minum, ini buat kakak Deva kalena sudah belikan Cika ikan cupang" ujar Cika.

"Kita gak dikasih Cika?" Tanya salah satu anak dengan nada menggoda. Menggoda anak kecil itu memang seru.

"Kakak kan gak belikan Cika ikan cupang" jawab Cika polos.

Sementara Cika masih berdebat, Joseph dikejutkan dengan kulit Deva yang memerah dari leher hingga kaki di penglihatan Joseph.

"Tuan muda kenapa?" Tanya Joseph panik. Bagaimana tidak, sebelum bermain tuan mudanya masih baik-baik saja dan kini muncul ruam merah.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang