Chapter terakhir nih. Maaf ya kalau endingnya terlihat memaksakan, soalnya aku mau fokus sama real life aku. Misalnya nanti kalau aku ada waktu aku akan buat moment Deva deh.
Dah segitu aja info dari aku. Jangan ditungguin update lagi ya🥺
Happy reading!!!!
Bulir keringat sebesar jagung mengalir setetes demi setetes dari dahinya. Tidurnya terlihat gelisah, memperlihatkan jika ia tengah bermimpi buruk.
Terdengar suara yang begitu jauh dari pendengarannya tengah memanggil dirinya.
Semakin lama suara itu semakin jelas di telinganya, membuatnya ingin cepat membuka mata.
Begitu ia membuka mata disertai napas memburu seperti habis berlari dengan kecepatan penuh, pandangannya menelisik sekitar mencari keberadaan seseorang.
Sebenarnya, orang itu berada disampingnya. Memperhatikannya dengan ekspresi yang terlihat sekali sangat khawatir. Namun, karena ia sedang tidak fokus, keberadaannya seperti tidak terlihat.
"An!"
Barulah panggilan kesekian bisa mengembalikan fokusnya. ia arahkan pandangannya kesamping kanan dan menangkap sosok wanita yang melihatnya dengan raut khawatir.
Dirinya langsung terduduk dan memeluk wanita itu dengan sangat erat, seakan jika dirinya melonggarkannya sedikit saja sosok itu akan menghilang dalam sekejap.
"An. Did you have a nightmare?" Tanyanya. Tangannya membalas pelukan prianya itu dan menepuk lembut punggungnya.
Pria itu tidak menjawab dan semakin mengeratkan pelukannya, menyalurkan rasa takutnya.
"It's okay, itu hanya sebuah mimpi. Orang tua dulu bilang jangan tidur waktu sore hari atau kamu akan mengalami mimpi buruk." Ucapnya menenangkan.
"Sore?" Tanyanya.
"Eum, sepertinya kamu kelelahan setelah beberapa hari terakhir ini sibuk, baru berbaring sebentar kamu sudah tertidur pulas, meninggalkan Didi bermain sendiri." Ujarnya, sembari merapikan rambut prianya yang basah karena keringat.
"Didi?" Tanyanya lagi bingung.
Wanita itu tertawa kecil malihat wajah bingung suaminya.
"Sepertinya kamu masih mengantuk. Mandilah agar kamu merasa segar, putra kita sudah menunggu untuk bermain dengan papanya sejak tadi."
"Lia." Panggilnya.
"Eung."
Damian hanya memandangi wajah istrinya tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"An, ada apa?" Tanya Athalia.
Tersadar dari lamunannya, Damian bangkit dari tempat tidur untuk pergi mandi.
"Tidak ada. Aku mandi dulu." Ucapnya, lalu mencium kening sang istri, kemudian pergi ke kamar mandi.
Pemandangan yang saat ini dirinya lihat seakan seperti mimpi. Dalam pandangannya terlihat istri dan putra tunggalnya tengah berbincang sambil bercanda.
Tawa lucu putranya dipadukan dengan tawa indah istrinya menjadi penenang hatinya.
Asik memperhatikan dua orang tercintanya, dirinya tidak sadar jika sang putra menghampirinya, lalu melingkarkan tangannya pada kakinya.
"Papa, Didi mau holiday di tempat Bao Bao tinggal." Pintanya dengan ekspresi lucu.
Tidak tahan dengan wajah menggemaskan putranya, Damian menggendong putranya seperti koala agar memudahkan dirinya untuk mengecupi wajah yang sangat menggemaskan itu.
