Deva masuk ke dalam mansion dengan membawa satu box, sedangkan sisanya dibawa oleh Damian dan bodyguard yang juga membawa mainan milik Deva. Keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Sudah pulang sayang?" Pertanyaan retoris Lalitha mendapat anggukan dari Deva. Deva meletakkan box berisi cake yang dibawanya diatas meja.
"Selain bertemu mama, Didi kemana lagi?" Kini giliran Charvi yang bertanya. Mereka sudah tau Deva dan Damian pergi kemana.
"Deva pergi ke kantor papa, terus Deva juga pergi ke mall beli mainan sama kue" Deva bercerita apa yang ia lalui hari ini.
"Deva juga belikan kue untuk semuanya" Deva menunjukkan box cake yang saat dibuka terdapat 10 slice cake berbagai rasa, dari coklat, matcha, red Velvet dan lainnya.
"Kelihatan enak sekali" seru Lalitha senang.
"Iya, Deva pilih yang kelihatan enak tapi kuenya cuma ada 10"
Melihat Deva sedih, Ayden berinisiatif mengambil dua pastry, croissant dan puff pastry.
"Didi bisa ambil kuenya, Koko akan makan pastry" kata Ayden.
"Koko juga" timpal Sandika.
"Tidak boleh, Deva saja yang makan pastry-nya, Koko harus makan kue" Deva mengambil pastry yang ada ditangan Ayden membuat Ayden pasrah.
"Sudah, sudah, kita makan kue dan pastry-nya nanti setelah makan malam" ujar Charvi menengahi.
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga, para Manuella muda tengah bermain Jenga menuruti permintaan Deva sembari memakan dessert pemberian Deva.
Meski Deva tidak kebagian slice cake-nya, Deva mendapat suapan dari mereka terutama milik Damian yang memang selalu ia suapkan pada putranya.
"Papa tidak makan?" Tanya Deva karena tidak pernah melihat sang ayah memakan cake miliknya.
"Milik papa untuk Didi saja" perkataan Damian mendapat gelengan dari deva, lalu Deva menyuapkan cake coklat yang tadi ia bagi untuk sang ayah.
Sebenarnya, mereka semua ingin memberikan cake milik mereka hanya untuk Deva, tapi karena memakan cake berlebihan tidak baik untuk kesehatan mereka hanya memberikan pada Deva satu suapan untuk dicicipi.
Permainan Jenga dilanjutkan setelah Deva menyuapi Damian. Jika Deva menang mereka akan menuruti perintahnya dan mendapat ciuman dan jika Deva kalah mereka akan diberikan ciuman dari Deva.
Dengan penuh keyakinan jika dirinya akan menang, Deva dengan mudah menyetujuinya. Babak pertama Alex sengaja mengalah tanpa ada protesan seperti sudah terhubung satu sama lain.
"Ko Al kalah" seru Deva senang
"Sebelum Didi mengatakan permintaannya kami harus cium Didi dulu" kata Alex.
Yang mencium Deva pertama kali tentunya Alex, Alex mencium Deva di pipi kanan disusul oleh Matthias, Dante, Jayendra, Ayden dan terakhir Sandika yang mencium pelipis Deva sebab wajah Deva sudah disentuh bibir oleh adik-adiknya.
"Very cutesy" bisik Sandika yang membuat Deva merinding mendengar suara berat kakaknya.
Aksi mereka tentunya tidak luput dari mata para orang tua yang memperhatikan permainan mereka.
Permainan berlanjut, balok kembali disusun dan yang pertama kali memulai Jayendra yang mengambil balok tengah ditingkat ketiga kemudian disusun lagi di puncaknya. Sudah banyak balok dibangun bawah yang terkikis membuat Deva ragu untuk mengambil balok karena takut akan rubuh.
Seperti dugaan Deva dan yang lain, balok itu rubuh saat Deva akan mengambil balok membuat Deva kalah dan mendapat hukuman untuk mencium para saudaranya.
