20. Exam Week

7.2K 552 15
                                        

Happy reading!!!!











Deva sudah memasuki pekan ujian semester ganjil membuat waktu bermainnya berkurang. Selama ujian, Damian tidak pergi ke kantor demi mendampingi putranya melewati ujian semester.

Kakek dan neneknya serta Ayden pulang Minggu sore kemarin. Kakeknya sedang menyiapkan acara besar untuk pesta perusahaan akhir tahun nanti.

Kali ini Damian sendiri yang mengantar putranya ke sekolah menggunakan mobil kesayangannya, Mercedes Benz G-Class. Tentunya mereka berangkat bersama Banu dan Farhan.

Damian mengecup lama kening Deva sambil membubuhkan doa-doa agar ujian putranya diperlancar.

Banu dan Farhan yang melihat yang dilakukan Damian membuatnya heran, sebab keduanya tidak pernah diperlakukan seperti Damian memperlakukan Deva. Mereka hanya menyalami tangan kedua orang tuanya saja ketika akan berangkat sekolah atau pulang sekolah.

"Pahami soalnya, kerjakan dengan teliti dsn perlahan" pesan Damian sebelum membiarkan putranya masuk ke dalam sekolah. Omong-omong mereka menjadi pusat perhatian lagi karena mobil yang dipakai oleh Damian. Banyak yang membicarakan mereka terutama mobil milik Damian dengan sebutan mobil penculik.

Jam sekolah Deva lebih singkat saat masa ujian, yang biasanya selesai kelas jam satu siang, kini jam 11 sudah selesai.

Damian sudah berdiri disamping pintu mobil menunggu kedatangan putranya. Melihat putranya dikelilingi banyak teman membuat Damian tersenyum teduh, bersyukur banyak yang menyayangi putranya.

"Deva, jawaban kamu nomor 11 apa, yang C bukan?" Tanya salah satu teman Deva.

"Aku jawabnya A, tapi gak tau benar apa enggak, aku agak lupa soalnya" jawab Deva.

Temannya yang mendengar jawaban Deva menjadi lesu, apa jawabannya salah. Deva adalah yang paling cerdas dikelasnya, bahkan sejak kelas satu Deva selalu mendapat juara kelas, maka dari itu banyak yang bertanya pada Deva dan meminta diajari oleh Deva. Deva juga tidak menolak jika mereka minta diajari asal tidak menyalin jawaban miliknya. (Intinya, Deva gak pelit ilmu).

"Pak Rian, udah gak pernah datang lagi ya?" Tanya Banu.

"Iya, terakhir waktu makan-makan itu" jawab Deva.

"Itu, papa kamu udah nunggu" tunjuk Dendi kearah luar sekolah yang sudah terdapat mobil yang tadi pagi mereka lihat dan Damian yang berdiri menyandar mobil.

Setelah berpamitan pada teman-temannya, Deva, Banu dan Farhan memasuki mobil.

Damian memberikan paperbag berisi es krim, ada tiga cup es krim dalam paperbag itu.

"Terimakasih papa" kata Deva, lalu membagikan masing-masing satu pada dua sahabatnya.

"Anything, sayang"

"Terimakasih om" ucap Banu dan Farhan bersamaan.

"Sama-sama".

Ketiga anak itu menikmati es krim dengan senang. Tangan Damian juga sesekali mengusap puncak kepala putranya.

"Bagaimana ujiannya, Didi?" Tanya Damian.

"Didi bisa jawab semua soalnya, tapi Didi ragu kalau bisa benar semua" jawab Deva sambil menikmati es krim rasa coklatnya.

"Tidak masalah jika ada jawaban yang salah, Didi jadi tahu apa kesalahan Didi agar bisa memperbaikinya. Kalau terlalu sempurna Didi tidak akan tahu apa kekurangan Didi. Bukan berarti boleh sengaja berbuat kesalahan"

Damian memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Dayat, lalu membersihkan sisa es krim yang mengotori area bibir putranya.

Banu dan Farhan berpamitan pada Damian dan Deva setelah mengucapkan terimakasih.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang