Happy reading!!!
Setelah mandi, Damian mengajak putranya pergi untuk menemui seseorang dan tentunya mereka sangat ingin bertemu sang putra. Damian memasuki daerah perumahan elit. Sekitar 10 menit dari pintu masuk perumahan, mobilnya memasuki pelataran rumah mewah berwarna putih.
Damian membunyikan bel rumah dan tak lama seorang pelayan membuka pintunya. Damian menggandeng Deva yang berdiri disebelahnya.
"Pak Damian, bapak sudah ditunggu sama nyonya bos" sambut pelayan itu lalu memberikan jalan untuk Damian masuk. Yang membuatnya heran, siapa anak yang bersama Damian itu, pikir si pelayan.
Kedatangan Damian disambut hangat oleh nyonya rumah dan yang lainnya.
"How are you, ma?" Damian memeluk wanita berusia senja itu namun tidak menutupi kecantikannya.
"I'm good, Dami. How about you?" Wanita itu membalas pelukan Damian dengan hangat dan senang. Setiap tahun Damian akan datang ke rumahnya setelah mengunjungi makam putrinya.
"Sekarang aku baik-baik saja" senyum tipis Damian bisa dirasakan oleh wanita itu. Senyum Damian mengandung arti jika yang dikatakannya memang benar.
"Dami, apa..." Ucapan menggantung wanita itu dijawab dengan anggukan kecil oleh Damian.
"Ya"
Wanita itu tanpa aba-aba langsung memeluk Deva yang belum mengerti keadaan.
"Astaga sayang, terimakasih sudah kembali sayang" wanita itu mengecupi wajah Deva dengan air mata yang mengalir.
"Mama, hentikan, mama harus memperkenalkan diri dulu" suara interupsi seorang pria seumuran Damian terdengar membuat wanita itu menghentikan aksinya.
"Maafkan amah ya, sayang"
Deva diajak untuk duduk bersama mereka. Setelah memeluk satu persatu dari mereka, Damian duduk disebelah Deva yang diapit wanita tua tadi.
"Apa papa sudah memberitahu jika Didi akan kesini?" Tanya wanita tua itu yang dijawab gelengan oleh Deva. Wanita itu tidak protes atau bereaksi karena sudah tau dengan sifat Damian yang tidak banyak bicara.
"Ini amah, nenek Didi" wanita itu menaruh tangannya di dada sebagai petunjuk. "Nama amah, Diandra Arini Sukma, amah itu ibunya, mama Didi"
"Itu akung, kakeknya Didi, ayahnya, mama" tunjuk Diandra pada sang suami yang duduk di sofa tunggal. "Nama akung, Adrian Mahira Sukma, akung itu ayahnya, mama Didi".
Setelah Diandra memperkenalkan diri dan suaminya, Deva diambil alih oleh pria seusia sang ayah dan Deva duduk diapit oleh seorang wanita.
"I miss you, prince. Wajah prince masih sama seperti saat prince usia 20 bulan" pria itu menangkup wajah Deva dengan dua tangannya kemudian diberi kecupan dikedua pipi Deva.
"Perkenalkan diri dulu pa" ujar wanita yang duduk disebelah Deva.
"Athala Erza Sukma, kembaran mama prince, panggil Jiu Jiu" Athala mengecupi tangan Deva juga, bahkan jari Deva sampai Athala gigit sangking gemasnya dengan Deva sejak Deva lahir.
Deva berusaha menarik tangannya yang digigit gemas oleh pria yang memintanya dipanggil 'jiu jiu', Deva juga bingung kenapa dirinya dipanggil 'prince' oleh pamannya ini.
"Kenapa Jiu Jiu panggil Deva 'prince'?, itukan bukan nama Deva" tanya Deva, menatap Athala.
"Karena Athalia adalah 'princess' untuk Jiu Jiu, dan kamu 'prince' untuk Jiu Jiu" jawab Athala.
"Perkenalkan sayang, nama mima, Tiffany Anggika Sukma, istri Jiu Jiu. Didi bisa panggil mima" ujar wanita disampingnya.
"Hai Didi, mungkin Didi tidak ingat Koko karena dulu masih sangat kecil, tapi Koko tidak pernah lupa dengan Didi. Nama Koko Hazellio Rendra Sukma, Didi dulu panggil Koko Azel" ujar Hazellio setelah mengambil duduk disamping ibunya.
