Happy reading!!!!
Pagi menjelang, Damian bangun seperti biasanya sekitar pukul 5 lewat 30 pagi, sedangkan putranya yang biasanya sudah bangun kini masih lelap tertidur. Sepertinya karena Deva tidur terlalu larut membuatnya masih memejamkan mata.
Damian tidak membangunkan putranya agar puas tertidur, kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya, setelah keluar dari kamar mandi kembali ke ranjang dengan membawa laptopnya untuk memeriksa pekerjaannya.
Damian menggerakkan laptopnya dengan satu tangan dan tangannya yang lain mengusap lembut surai hitam putranya.
Pukul 7 lewat 18 pagi Deva barulah membuka matanya, melihat sekelilingnya yang asing ditambah sang ayah tidak ada bersamanya. Deva langsung bangun terduduk, karena gerakannya yang tiba-tiba membuat kepalanya pusing, namun tidak dihiraukan.
"Papa."
"Papa."
"Papa." Deva memanggil ayahnya panik, pikiran buruk mulai merasuki kepalanya.
Apakah dirinya ditinggalkan sendiri. Deva takut sendiri. Deva takut ditinggal. Deva hanya mau papa. Pikiran-pikiran seperti itu yang memenuhi kepala Deva.
Damian datang dari arah balkon dengan berlari, ia merasa panik mendengar putranya memanggilnya seperti ketakutan.
"Papa disini sayang, papa tidak kemanapun." Damian memeluk putranya erat, membubuhkan kata-kata penenang dan kecupan-kecupan di surai putranya.
"Papa jangan pergi.
Papa tidak boleh pergi.
Papa tidak boleh tinggalkan Didi." Deva meracau dengan air mata yang bebas terjatuh tanpa henti, racauan Deva semakin tidak jelas juga napas Deva yang ikut memburu karena serangan panik.
"Didi, sayang, Didi lihat papa. Lihat papa sayang. Ini papa." Damian mengarahkan pandangan putranya untuk menatapnya, menyadarkan putranya dengan mengguncang tubuh putranya. Damian juga ikut panik melihat keadaan putranya.
Damian menghubungi Rowan agar segera ke kamarnya.
"ROWAN, CEPAT DATANG KE KAMARKU BERSAMA BEN." Damian berteriak panik setelah sambungan telepon terhubung.
"Didi, papa disini, sayang. Sayang, Didi, jangan membuat papa takut." Damian meneteskan air mata, ucapan putranya semakin tidak jelas, pernapasannya juga semakin cepat.
Tidak lama Rowan dan Benedict sampai di kamar Damian dengan napas yang memburu keduanya karena berlari.
"Ambilkan kantong itu." Tunjuk Rowan pada paperbag yang ada diatas meja untuk penanganan darurat.
Rowan menutup area mulut dan hidung Deva agar membuatnya bernapas dalam paperbag untuk mengirup karbondioksida dalam tubuh Deva yang berkurang drastis karena serangan panik.
Cara itu dilakukan beberapa kali oleh Rowan hingga dirasa pernapasan Deva mulai stabil, lalu menuntun Deva untuk bernapas secara perlahan.
"Deva sudah bisa lihat ada siapa saja?" Tanya Rowan setelah dirasa Deva membaik.
"Papa, Rowan, om Ben." Jawab Deva lirih, tenaganya seperti terkuras habis, tubuhnya terasa sangat lemas.
Damian memeluk Deva erat menyalurkan rasa leganya setelah kejadian menakutkan bagi dirinya.
"Deva, ada yang kamu takutkan?" Tanya Rowan setelah Damian melepaskan pelukannya pada putranya.
"It's okay, tell me." Bujuk Rowan. Meski Rowan sudah mendapat gambaran besar ketakutan Deva, namun ia ingin mendengarnya langsung.
"Takut sendiri, takut papa pergi tinggalkan Deva." Ucap Deva, suaranya masih lirih dan serak.
"Deva mau aku bantu agar tidak takut lagi?" Tanya Rowan untuk memastikan, jika Deva menolak pun dirinya akan mencari cara agar bisa menyembuhkan Deva. Selain karena Deva putra sahabatnya, Deva mengingatkannya pada seseorang dan juga benar-benar membutuhkan dirinya. Dengan usia Deva yang masih anak-anak, Rowan harap Deva bisa cepat sembuh dari rasa takutnya.
