17. Back to the Village.

8.9K 575 29
                                        

Happy reading!!!








Setelah hampir sepuluh hari Deva cuti dari sekolahnya, kini Deva sudah siap untuk masuk sekolah lagi. Deva sudah siap dengan seragam putih merahnya serta tas berwarna navy yang baru dibelikan Damian beberapa hari lalu. Tentunya Damian ikut untuk tinggal di desa bersama putranya dan dua asistennya ikut Damian usung agar mempermudah Damian dalam pekerjaannya. Dan Joseph kini sudah resmi sebagai asisten pribadi Deva. Pria lajang berusia 34 tahun itu sangat bersyukur ketika ditugaskan untuk menjadi asisten pribadi putra tuannya sebab tekanannya dalam pekerjaan akan berkurang.

"Deva!"
"Deva!"

Suara panggilan dari luar membuat Deva terburu untuk menghampiri sumber suara. Deva sangat mengenal suara itu karena itu suara dua sahabatnya, Banu dan Farhan.

"Sebentar dulu!" Sahut Deva dengan suara agak keras.

"Papa, sudah, Didi sudah dihampiri" protes Deva sebab ayahnya belum juga selesai mendandaninya.

Deva memutuskan untuk memanggil dirinya sendiri 'Didi' sejak dua hari lalu. Itu karena Deva merasa tidak enak ketika semua keluarganya memanggilnya 'Didi' sedangkan dirinya sendiri tidak. Awalnya Damian dan yang lain terkejut saat Deva memanggil dirinya sendiri 'Didi'.

"Tidak perlu buru-buru, sayang, nanti Didi akan diantar dengan Joseph" sahut Damian yang tengah merapihkan rambut Deva. "Sudah siap. Beri papa sun dulu" tunjuk Damian pada pipi kanannya yang langsung dipatuhi oleh Deva karena ingin cepat-cepat menemui sahabatnya. Setelah mendapat kecupan, Damian juga memberikan kecupan di kening Deva dan membubuhkan doa-doa baik untuk putranya.

Setelah kembali ke desa, Damian dan Deva tinggal di rumah milik mendiang Dayat dan Santi atas keinginan Deva. Awalnya Damian ingin mereka untuk tinggal di hotel. Karena tidak ingin membuat putranya sedih Damian akhirnya menuruti keinginan putranya. Sedangkan kedua asistennya ia suruh tinggal di hotel. Mereka hanya datang pukul 6 pagi atau di panggil oleh Damian saat diluar jam kerja mereka, selain itu mereka akan menetap di hotel.

Damian juga akan pergi ke perusahaan setelah putranya berangkat sekolah dan akan kembali ke desa pukul 5 sore paling lambat pukul 6. Transportasi yang Damian gunakan adalah helikopter agar mempersingkat waktu perjalanan Damian.

"Deva kayak bayi" celetuk Farhan ketika Deva sampai dihadapannya. Beberapa hari tidak bertemu, Deva semakin menggemaskan, pikir Farhan.

"Aku gak bayi ya!" Kesal Deva. "Sudah ayo berangkat, nanti telat" Deva menarik tangan kedua sahabatnya ke arah mobil.

"Deva, kita harus naik mobil?" Tanya Banu.

"Iya, kata papa, om Jo yang antar ke sekolah mulai sekarang" jawab Deva.

Mobil Fortuner hitam membuat heboh warga sekolah dan para pedagang disekitarnya. Tidak pernah sekolah mereka kedatangan mobil mewah dan besar seperti itu, pikir mereka.

Mereka semakin heboh ketika yang keluar dari mobil itu Deva, Banu dan Farhan, apalagi ada orang dewasa yang membukakan pintu mobil.

Karena Deva dan dua sahabatnya malu menjadi tontonan, mereka berlari menuju kelas masing-masing. Ketika masuk kelas, Deva disambut oleh teman-teman kelasnya dan kemudian diberondong pertanyaan kenapa Deva bisa naik mobil mewah seperti itu. Belum Deva bisa menjawab, bel berbunyi membuat Deva merasa lega.

"Selamat datang kembali Deva" ucap wali kelasnya setelah menerima salam dari para muridnya. Deva balas dengan sedikit membungkukkan kepalanya.

Bel istirahat berbunyi, Deva dan beberapa teman kelasnya termasuk Farhan berniat ingin membeli jajanan yang berjualan di luar sekolah, namun niat itu terhenti ketika Joseph datang dengan membawa tas paperbag yang memiliki logo hotel yang mereka tahu itu dari hotel desa mereka.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang