Plane

1.4K 157 6
                                        

Happy reading!!!!








Athalia, tengah menenangkan putranya yang menangis dalam gendongannya. Sejak kemarin, putranya menangis disebabkan mainan kesayangannya hilang. Sebagai seorang ibu, tentu ia sangat khawatir.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Keringat dingin terus bercucuran karena demam yang menyerang putranya sejak kemarin malam. Biasanya, si kecil akan mencari posisi tidur yang nyaman ketika lampu kamar sudah dimatikan. Namun, karena demam yang menyerangnya membuat tubuhnya merasa tidak nyaman, membuatnya sulit tidur. Padahal, pagi tadi dokter Dharma sudah dipanggil untuk memeriksa putranya, namun, panas tubuh putranya belum juga turun.

Damian, baru saja memasuki kamar, sebelumnya ia keluar kamar karena mendapat telepon. Damian, masih melihat putranya menangis dan memanggil mainan kesayangannya.

Mengambil gendongan dengan tipe ssc, lalu mengambil alih putranya dari sang istri. Ia akan mencoba cara seperti kemarin malam untuk membuat putranya tertidur.

Si kecil yang keningnya tertempel plester penurun panas itu mendongak untuk melihat wajah ayahnya sambil terus menangis. Ia seakan mengadu jika mainan kesayangannya hilang.

"Pyen, An."

"Besok papa, cari lagi plane baby. Sekarang baby, tidur dulu." Setelah berucap, Damian, mengecup pucuk kepala putranya dan membawa putranya keluar kamar. Sebelum keluar, Damian, sudah meminta istrinya beristirahat lebih dulu.

Damian mengajak putranya berkeliling lantai dua, tempat kamarnya berada. Suasana mansion, tentu saja sangat sepi dan remang-remang sebab seluruh penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing.

Damian, berjalan mendekati akuarium yang terletak diposisi paling sudut. Cahaya lampu dari akuarium itu menjadi penerangan para ikan yang hidup disana.

"Baby, lihat, fish-nya warna-warni." Jari telunjuk Damian, diarahkan ke akuarium berukuran besar itu.

Si kecil mulai tertarik, namun tidak mengeluarkan suara apapun selain sesenggukan dengan air mata yang masih luruh.

"Waah~ ada fish besar juga, fish kecilnya juga banyak." Jari telunjuk Damian, menunjuk setiap ikan yang lewat didepan mereka.

"Pi." Cicit si kecil. Tangannya terulur, menunjuk ikan berwarna biru. Damian, tersenyum lega, pikiran putranya teralihkan.

"Pi." Tunjuk si kecil lagi, kali ini bukan pada ikan, melainkan pada seekor udang kecil yang melintas.

"Bukan fish, tapi shrimp." Damian, mengoreksi ucapan putranya.

"Wim." Ulang si kecil.

"Pi." Tunjuk si kecil pada seekor kuda laut yang melintas.

"Bukan fish, itu seahorse."

"Diwo."

Cukup lama keduanya berdiri didepan akuarium, hingga si kecil tertidur. Saat memasuki kamar, Damian, melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Setelah yakin putranya benar-benar pulas, Damian, pelan-pelan meletakkan putranya diatas kasur. Ia dibantu Athalia, yang belum tidur untuk melepaskan pengait gendongannya. Setelah terlepas, gendongan yang masih terpasang ditubuhnya ia letakkan diatas lemari perlengkapan putranya, lalu ikut bergabung dengan istri dan putranya yang tidur ditengah-tengah mereka.

"Get well soon, baby." Damian, mengecup kening putranya dan membubuhi doa-doa baik.

Lalu, Damian, juga meraih tangan istrinya untuk dikecup dan mengucapkan terimakasih.

"Terimakasih, dear, sudah bersabar dan kuat merawat putra kita yang sedang sakit."

Athalia, tersenyum manis. Selalu merasa bersyukur menjadi istri dari Damian, yang selalu mengucapkan terimakasih dan memberi apresiasi setiap usaha yang dilakukannya.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang