47. Coloring

4.3K 291 4
                                        

Happy reading!!!!

Sudah tiga hari Deva di rawat dan Damian baru mengizinkan selain keluarga dan orang tidak berkepentingan untuk membesuk putranya, dan itu juga berlaku untuk Elena, sebab, Damian masih sangsi dengan ibunya sendiri.

Keadaan Deva sudah lebih baik dibanding dua hari kemarin. Deva hanya masih merasakan lemas dan sedikit demam.

Para Manuella berkumpul diruang rawat Deva, kecuali Matthias, Dante, dan Ayden yang masih berada di sekolah.

"Seharusnya hari ini Aster sudah bisa pulang." Keluh Deva.

"Kalau Didi sudah sehat, nanti kita jemput Aster." Ucap Alex, yang tengah memangku Deva.

"Siapa Aster?" Tanya Elena, yang memang tidak tahu-menahu tentang Deva yang memiliki kucing.

"My cat, Oma. Didi temukan di semak-semak, waktu itu Aster terlihat kesakitan." Jelas Deva.

"Didi, kalau Didi kembali ke mansion opa dan Oma, Didi mau kan?" Tanya Elena, ia merasa jika sekarang waktu yang tepat untuk membujuk putra sulung agar kembali ke mansion utama. Dirinya merasa kesepian, sebab, semua anak-anak dan cucu-cucunya meninggalkan mansion, menyisakan dirinya dan sang suami.

Elena tau jika putra kedua dan ketiganya memilih tinggal di mansion mereka sendiri, namun saat Elena akan berkunjung kesana, dirinya selalu mendapatkan jika kedua putranya itu tidak ada dikediaman dan Elena yakin jika mereka berada di mansion Damian, yang sampai sekarang tidak Elena tau dimana letak mansion itu.

Semua orang yang ada di ruang rawat memusatkan pandangannya kearah Deva, menunggu jawaban apa yang akan Deva berikan.

"Didi mau dimanapun, asal bersama papa." Ucap Deva.

Damian tersenyum mendengar jawaban Deva, itu artinya dirinya tidak perlu lagi kembali ke mansion utama.

"Damian, kamu tidak ingin kembali dan tinggal bersama ibu?" Elena masih berusaha membujuk Damian.

"Aku sudah nyaman di mansion milikku sendiri. Tidak tinggal di mansion utama adalah pilihan tepat untukku, sebab aku akan terhindar dari masalah." Ujar Damian sarkas.

Suasana tiba-tiba menjadi canggung, kecuali Deva yang tidak mengerti dengan masalah para orang dewasa itu.

"Koko, mau itu." Tunjuk Deva pada sebuah video yang dirinya tonton dari ponsel Alex.

Alex langsung menuruti permintaan Deva, dengan meminta asistennya untuk mencarikan yang adiknya mau.

"Didi, Oma dengar beberapa hari yang lalu Didi bertengkar di sekolah, apa itu benar?" Tanya Elena. Ia mendengar informasi itu dua hari yang lalu. Henry?, dia tau, namun, tidak bicara apapun, karena dia yakin jika Damian tidak akan tinggal diam.

"Dia duluan yang cari masalah dengan Didi." Ujar Deva, menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan sang nenek.

"Damian, kenapa tidak memberitahu masalah ini?" Tanya Elena, pandangannya beralih pada putra sulungnya.

"Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Jawab Damian.

"Apa Didi terluka?" Kini Elena beralih pada Deva.

"Sedikit, karena Didi sempat didorong dan jatuh, tapi Didi balas. Dia juga pukul Didi, dan Didi balas juga." Deva menjelaskan dengan semangat, membuat semua yang ada didalam ruangan itu merasa gemas.

Tidak lama, seorang wanita yang memakai pakaian kerja dengan paduan hitam dan putih masuk setelah mengetuk pintu dengan membawa sebuah paperbag yang memiliki logo sebuah toko.

"Pesanan anda tuan muda Alex." Ujarnya, memberikan paperbag itu pada Alex.

"Thanks, Raline." Ucap Alex.

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang