Deva terkejut ketika ada seseorang yang dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk masuk dalam gendongan koala.
Ayden yang juga sedang bersama Deva ikut terkejut dan ketika tau siapa orangnya, ia tidak jadi bersuara.
"Hallo, Baby Panda." Sapanya.
Deva berusaha turun dari gendongan pria itu, dirinya tidak mengenalnya membuat Deva takut.
"Lepaskan." Pinta Deva, masih merotasikan badannya berusaha untuk turun, namun dekapan pria tinggi itu malah semakin erat.
"Didi tidak mengenalmu." Seru Ayden, menatap pria itu malas.
Mendengar perkataan Ayden, membuatnya menatap Deva dan memang terlihat jika Deva takut dengannya.
"Didi jangan takut. Koko masih bagian keluarga Didi. Nama Koko, Jeremy Orlando Manuella. Dulu Didi panggil Koko Jiyi." Ucapnya, memperkenalkan diri agar Deva tidak takut lagi dengannya.
Namun, hal itu tidak mempengaruhi Deva, ia tetap takut dengan pria asing yang tiba-tiba menggendongnya.
"Kalau Didi tidak percaya, tanyakan saja pada Ayden." Baru setelah membawa nama Ayden, Deva berhenti memberontak dan mengalihkan pandangannya ke arah sang kakak yang dengan tenang memakan makan siangnya.
"Ko Jeri saudara jauh kita. Dia cucu dari sepupu opa." kata Ayden menjelaskan, entah sang adik paham atau tidak.
Deva baru bisa melihat dengan jelas wajah Jeremy yang menampilkan senyum tampannya.
"Kenapa ada di sekolah?" Tanya Ayden.
"Aku jadi kepala sekolah disini." Balas Jeremy yang sudah mendudukkan dirinya dengan Deva berada di pangkuannya.
Jeremy menyuapkan makan siang Deva yang masih termakan sedikit.
Ayden sedang berada di sekolah Deva, menemani adiknya makan siang. Dirinya datang sendiri, sedangkan kedua teman Deva sedang pergi ke toilet.
Ketiganya menjadi pusat perhatian semua murid dan guru yang sedang ada di kantin. Para guru bertanya-tanya apa hubungan kepala sekolah baru mereka dengan dua keturunan Manuella, sebab mereka sangat akrab. Sedangkan para murid bertanya siapa pria dewasa itu.
🐼🐼🐼
Deva saat ini tengah menunggu Ayden sampai selesai sekolah. Sebelumnya Ayden menjemput Deva saat jam sekolah Deva selesai. Deva ingin menemani Ayden berlatih basket, yang tentunya keduanya sudah meminta izin dari Damian.
Deva tengah memainkan ponsel milik Ayden sembari menunggu sang kakak selesai sekolah. Kini ia sedang bermain dari aplikasi yang baru saja dirinya unduh. Berbagai ekspresi Deva tunjukkan.
"Sweet."
"Divine."
"Tasty."
"Super sugar crush."
"Yes." Seru Deva tanpa sadar ketika bisa melewati level yang menurutnya sangat sulit.
Seruan Deva itu mengalihkan perhatian penghuni kelas 8-1, kelas Ayden. Semua murid, termasuk guru yang tengah mengajar melihat kearah Deva.
Merasa diperhatikan banyak orang, Deva melihat kearah kelas sang kakak dan menemukan semuanya tengah melihat kearahnya. Hal itu membuatnya merasa malu, lalu membalikkan tubuhnya dengan wajah yang sudah seluruhnya memerah.
