39. Circumcision

3.3K 303 35
                                        

Upload ulang karena ada sedikit miskom, aku ngetiknya buru-buru karena ada kerjaan.

Jadi Damian sama Deva emang beda bulan. Ada loh hintnya di chapter spesial new year, masa kehamilannya Athalia, itukan udah berjalan beberapa bulan dan Damian bilang kalau kehamilan Athalia mungkin aja hadiah buat Damian yang besoknya ulang tahun, jadi gak memungkinkan kan kalau Damian sama Deva lahir di bulan yang sama. Yang aku nimbangi  tanggal lahir mereka. Maaf ya karena ketikan aku kurang jelas








Happy reading!!!!










Akhir pekan Deva dihabiskan dengan datang ke desa. Selain ia rindu ingin bermain dengan teman-temannya, Deva juga mendapatkan undangan dari keluarga Baron, yang akan mengadakan sebuah acara untuk kedua putranya. Acara itu bertujuan untuk merayakan Banu dan Farhan yang sudah melakukan sirkumsisi/sunat.

Tidak hanya Deva yang datang, namun seluruh penghuni mansion Damian, keluarga Sukma dan Rowan juga ikut datang ke desa.

Acara yang Baron adakan sebenarnya hanya untuk teman-teman putranya. Acara akan diadakan hari Minggu, dan hari ini masih Sabtu.

Saat ini Deva tengah bermain bersama teman-temannya di teras rumah mendiang Dayat.

"Deva, sekolah baru kamu enak ya, hari Sabtu libur." Ucap Dendi.

"Iya, apalagi sekolahnya bagus, gak kayak sekolah kita." Tambah Angga.

"Aku malah ingin sekolah disini lagi." Sahut Deva.

"Kenapa?" Tanya Banu.

"Sekolah disana capek, selesai sekolahnya jam tiga, belajarnya pakai bahasa inggris, terus hari Selasa sama Jumat aku les sampai jam enam. Aku juga gak punya banyak teman disana, mereka anggap aku saingan mereka." Keluh Deva, mengingat kehidupan sekolahnya yang masih asing.

Selain dengan Zayn dan Marcell, Deva tidak dekat dengan siapapun. Di sekolahnya penuh dengan persaingan dan dirinya sesekali diincar oleh salah seorang siswa dari kelas lain ketika sedang bermain, yang belum Deva ketahui siapa dia.

"Eh, kamu udah sunat belum, Dev?" Tanya Farhan. Pembahasan mereka sudah beralih.

"Aku gak tau, kayaknya belum deh, soalnya bapak sama ibu gak pernah bilang." Kawab Deva. "Sunat sakit gak?" Tanya Deva penasaran.

"Sakitnya cuma sedikit, tapi waktu mau sembuh rasa burungnya gatel." Balas Banu, dengan memelankan suaranya diakhir.

Deva yang mendengar itu merasakan ngilu diarea kemaluannya, dirinya membayangkan jika kemaluan miliknya dipotong.

Banu dan Farhan melakukan sirkumsisi saat liburan semester, dan baru membuat acara setelah hampir dua bulan sebab orang tuanya yang baru memiliki dana.

Keempat teman Deva menatap intens pria bule yang datang mendekati mereka. Empat anak itu masih terperangah bisa melihat Rowan, meski saat menghampiri Deva tadi keempatnya juga sudah bertemu.

"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Rowan, setelah bergabung dengan Deva dan teman-temannya. Ia duduk disebelah Deva.

"Deva tanya pada Banu dan Farhan, bagaimana rasanya sunat. Soalnya Deva belum pernah sunat." Ucap Deva, menjelaskan.

"Sunat, what is sunat?" Tanya Rowan, dirinya baru mendengar kata itu.

"Em....yang Deva tau sunat itu memotong penis." Bisik Deva pada Rowan, dirinya malu untuk menyebutkan secara gamblang nama alat kelamin pria.

Rowan terdiam beberapa detik untuk mencerna ucapan Deva dan ia tersenyum ketika sudah memahaminya.

"Deva bisa tanyakan pada papamu, apakah Deva sudah sirkumsisi atau belum." Ujar Rowan, dengan mengusap puncak kepala Deva.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang