7. Lunch With Damian

13.4K 890 5
                                        

Happy reading!!!

Tiga hari berturut-turut, Damian selalu bergabung dengan Deva saat bermain. Meski Damian hanya diam menatap Deva.

Deva selalu bertanya-tanya, siapa orang yang selalu menghampirinya bahkan mengantarkannya pulang dari bermain.

Saat ini, anak-anak yang bermain bertambah dan ada juga yang tidak Damian lihat, yaitu Banu bersaudara yang tidak hadir.

Seperti biasa juga, Damian menyediakan minuman dan snack untuk mereka.

"Angga, oper kesini" teriak Deva yang sedang lengang. Mereka tengah bermain sepakbola dengan tim seadanya, yaitu masing-masing tim berisi 7 orang.

Bola dioper kearah Deva sesuai instruksi, dan Deva menggiring bola itu mendekati gawang.

"Den, terima" Deva menendang bola kearah timnya yang dipanggil Den, Dendi.

Dendi berhasil mencetak gol dan mereka berteriak riang atas perolehan point mereka.

"Semangat teman-teman, satu gol lagi kita menang" seru Deva menyemangati timnya.

Dan tidak lama dari itu, tim Deva kembali mencetak gol jadilah jumlah gol yang didapat tim Deva adalah 3 sedangkan tim lawan 0.

Tim Deva sangat senang memenangkan pertandingan, selain karena menang mereka juga bertaruh tim yang kalah harus membawa bahan untuk membuat layang-layang keesokkan harinya.

"Jangan lupa loh besok dibawa" peringat Deva. Kemudian anak-anak itu meninggalkan lapangan untuk mencari bahan-bahan membuat layang-layang. Sedangkan teman-teman yang satu tim dengan Deva juga meninggalkan lapangan sebab hari sudah sangat siang. Mereka bermain dari pagi sebab sekolah sedang diliburkan karena ada rapat dewan guru.

Damian mendekati Deva ketika anak itu sudah sendirian dan hendak pulang.

"Deva, boleh temani saya makan?" Ucapan Damian membuat Deva bingung. Kenapa om ini memintanya menemani makan?, pikirnya.

"Tapi om.."

"Saya sudah meminta izin orang tuamu" ucap Damian ketika Deva akan menolak. Damian  memang sudah bicara pada Dayat dan Santi pagi hari tadi. Damian juga sudah berbicara tentang dugaannya pada mereka.

Deva tidak memilik alasan lagi untuk menolak Damian. Deva mengikuti langkah Damian menuju mobil Damian.

Dalam perjalanan Deva banyak cerita dan bertanya beberapa hal yang membuatnya penasaran.

"Pekerjaan om apa?" Tanya Deva.

"Kamu penasaran?" Deva mengangguk mengiyakan.

"Iya, soalnya Deva tidak lihat om bekerja dan setiap hari ada di perkebunan, om juga bisa leluasa keluar masuk perkebunan, om kerja disana?" Ucapan panjang Deva ditanggapi dengan kekehan membuat Deva memberengut kesal.

"Saya bekerja kok, pekerjaan utama saya ada di luar negeri sebelum pindah, saya pemilik perkebunan itu jadi saya bisa bebas keluar masuk kesana" kalimat terakhir Damian semakin membuat Deva bingung.

"Sebenarnya perkebunan itu milik berapa orang sih?, soalnya ada dua orang yang berbeda yang jadi pemilik perkebunan"

"Siapa dua orang itu?"

"Deva tidak ingat siapa namanya, tapi satunya beberapa hari lalu Deva undang makan malam di rumah dia ayahnya kak Ayden, om kenal?"

"Ayah Ayden adik kedua saya, namanya Dylan, dan satunya Ditrian adik pertama saya, tentu saja saya sangat mengenal mereka. Mereka berdua hanya membantu saya untuk mengurus wilayah ini, pemilik sebenarnya adalah anak saya dan seharusnya dia seusia kamu" untuk pertama kalinya Damian memberi penjelasan begitu panjang kecuali saat presentasi bisnis.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang