46. Lala

3.5K 295 14
                                        

Happy reading!!!!








Sehari setelah Michella dibawa ke ruang konseling, penderitaan Michella dimulai. Orang-orang yang tadinya berteman atau dekat dengan Michella mulai menjauhinya. Michella pun menjadi sasaran perundungan, terutama salah satu kelompok yang memang cukup berkuasa setelah Ayden.

"Masih berani dia datang ke sekolah setelah hampir bunuh anak elementary sekaligus anak pemilik sekolah." Ucap sarkas Damar, si ketua kelompok itu.

"Makanya kalau bodoh itu jangan kebangetan. Gue aja yang otaknya pas-pasan masih tau siapa yang gak boleh diganggu." Bian, salah seorang anggota Damar.

"Iya lagi, pusatnya langsung yang diganggu sama nih ondel-ondel." Flora, yang juga anggota Damar.

Gunjingan serta makian Michella dengar disepanjang ia berjalan di sekolah ini. Ia hanya bisa menunduk disepanjang jalan.

Saat Michella melihat beberapa meter didepannya ada sosok Ayden yang tengah berbincang dengan teman-temannya, Michella tanpa tahu malu mendatangi Ayden, dengan harapan bisa ditolong.

"Ayden, tolong, mereka semua merundungku." Ucap Michella memohon, seperti orang lain yang mengadu pada Ayden jika mendapat perundungan di sekolah, maka Michella juga melakukan itu.

Ayden sangat tidak suka melihat perundungan didepan matanya, maka sebab itulah sangat minim perundungan di sekolah ini selama ada Ayden. Semua orang akan berhati-hati jika ada kehadiran Ayden.

"Lo, pantas dapat itu." Ucap Ayden, dengan nada yang teramat datar tanpa melihat kearah lawan bicaranya.

Michella yang melihat wajah teduh Ayden tadi, berubah takut ketika kini wajah Ayden berubah teramat datar bahkan Michella merasa adanya tali ghaib yang mengikat lehernya, sehingga membuatnya kesulitan bernapas.

Flora menaruh tangannya dipundak Michella, hingga membuatnya bisa mengapit leher Michella.

"Lo pikir, kita semua begini gak ada campur tangan dia, bego lo kalau mikir gitu. Udah diem." Tangan Flora membekap mulut Michella, ketika Michella hendak bersuara.

"Sekarang giliran pemeran utama yang bertindak. Ikut gue." Tangan yang masih berada di pundak Michella, menuntun, lebih tepatnya menyeret Michella untuk mengikutinya.

Flora dan Michella berjalan duluan diikuti Ayden, Jovan, Tristan, Christine, Kimberly, Damar serta para anggotanya.

Mereka berjalan menuju lapangan basket indoor. Lapangan itu tidak ada seorang pun selain Ayden dan para rombongannya. Flora mendudukkan Michella di bangku penonton paling depan, yang disebelahnya sudah ada lima kotak susu coklat berukuran 250ml.

Dengan sangat baik hati, Flora memberikan susu yang sudah tertancap sedotan pada Michella.

"Minum!" Titah Flora.

Michella menggeleng, ia tahu pasti ada sesuatu dalam minuman itu.

"Kenapa, takut, ngapain takut ini cuma susu biasa." Ucap Flora sarkas.

"Minum!!" Perintah Ayden tegas.

Karena merasa ketakutan, Michella menerima susu pemberian Flora. Michella meminumnya sangat cepat, hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskannya.

Satu kotak habis, dua kotak, tiga kotak, kotak susu keempat Michella sudah tidak sanggup menghabiskannya, namun karena ditatap sangat tajam oleh Ayden, membuatnya memaksakan diri untuk tetap meminumnya hingga habis.

Hingga sampai kotak susu kelima, Michella sudah benar-benar tidak sanggup. Terlebih semua minumannya terasa aneh.

Ayden mencengkram wajah Michella, mengapit kedua pipi Michella dengan kuat hingga si empu pipi mengeluarkan air matanya.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang