Dibuang sayang, tapi mau aku masukin story line udah kelewat😔
Happy reading!!!!
Hari ini Deva libur sekolah karena weekend. Sudah satu bulan Deva tinggal di kediaman Manuella setelah kejadian sang ayah menjemput dirinya di sekolah lamanya.
Deva sedang mengingat kenangannya saat tinggal di desa dulu saat orang tua angkatnya masih hidup. Seketika Deva bangun dan berlari menuju dapur untuk mencari pelayan yang bertugas di dapur.
Deva mengembangkan senyumnya saat melihat salah satu pelayan yang biasanya bekerja di dapur.
"Bibi." Panggil Deva riang.
Pelayan yang dipanggil pun memperlihatkan senyumannya setelah melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" Tanya pelayan.
"Deva boleh tanya?"
"Tentu tuan muda, apa yang ingin anda tanyakan?"
"Bibi kapan mau belanja sayur?"
Si pelayan bingung dengan pertanyaan tuan mudanya itu, namun tetap memberi senyuman.
"Kami tidak belanja sayur tuan muda."
Kini Deva yang dibuat bingung dengan jawaban si pelayan.
"Kalau gak belanja sayur bagaimana bibi masak?" Deva menyuarakan keterbingungannya.
"Tiga hari sekali akan ada mobil pengantar bahan untuk memasak jadi kami tidak belanja keluar. Apa tuan muda ingin sesuatu?" Tanya si pelayan yang melihat tuan mudanya lesu dengan jawabannya.
"Deva mau ayam." Gumam Deva yang masih terdengar oleh pelayan itu.
"Tuan muda ingin ayam?" Tanya si pelayan memastikan jika ia tidak salah dengar. Deva mengangguk sebagai jawaban.
"Nanti akan saya siapkan." Perkataan si pelayan membuat Deva kembali tersenyum dan itu membuat si pelayan juga ikut senang tuan mudanya kembali ceria.
"Terimakasih bibi, Deva tunggu ya ayamnya." Setelah mengucapkan terimakasih, Deva pergi meninggalkan dapur untuk bermain.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul dimeja makan untuk menyantap makan siang.
Pelayan yang ditanyai Deva tadi menghidangkan menu terakhir yaitu ayam goreng kesukaan bungsu Manuella.
Saat hendak kembali ke dapur, si pelayan dihentikan oleh Deva.
"Bibi." Panggil Deva.
"Iya tuan muda."
"Ayamnya mana?" Pertanyaan Deva membuat tidak hanya si pelayan, anggota keluarga yang lainnya juga ikut bingung.
"Ayam apa Didi?" Tanya Damian.
"Tadi Didi minta ayam sama bibi." Deva menjawab dengan bibirnya yang sedikit dimajukan.
"Ini ayamnya tuan muda." Pelayan itu menunjukkan ayam goreng yang tadi ia bawa.
"Bukan ini." Suara Deva bergetar menahan tangis.
"Didi ingin dimasak apa ayamnya?" Tanya Charvi.
Deva hanya menggelengkan kepalanya membuat mereka bertambah bingung.
Damian mendekat kearah Deva lalu mengangkat Deva untuk didudukkan di pangkuannya.
"Coba Didi bicara dengan pelan, Didi ingin ayam seperti apa?" Damian berbicara dengan sangat lembut dengan mengusap punggung Deva halus.
"Didi mau ayam hidup yang ada warnanya" saat berbicara air mata Deva ikut turun membuat Deva berbicara terbata.
"Didi ingin pelihara ayam?" Tanya Damian dibalas dengan anggukan.
