13. The Office

11.7K 657 3
                                        

Sesuai janji sang ayah, kini Deva dan sang ayah sedang dalam perjalanan untuk menemui sang ibu, Athalia.

Perjalanan membutuhkan waktu selama satu jam. Deva dibuat bingung saat sang ayah membawanya ke pemakaman.

"Papa, kita mau bertemu mama kan?" Tanya Deva.

"Iya"

Sekitar 7 menit berjalan, keduanya sampai di sebuah makam yang terdapat tulisan nama wanita yang mereka tuju.

'Athalia Eira Manuella'

"Kita sudah sampai" kata Damian.

"Hem, mama dimana, disini cuma ada makam?" Tanya Deva yang celingukan mencari sosok ibunya.

Damian mensejajarkan tingginya dengan sang putra, lalu memegang kedua lengannya. Damian menatap putranya sebelum berbicara.

"Mama ada disini" Damian menuntun Deva untuk melihat pusara Athalia.

Deva terkejut dengan pernyataan sang ayah, tidak menyangka jika sang ibu sudah tiada.

Deva merendahkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan pusara sang ibu.

"Halo mama, Deva datang. Deva kira, Deva bisa peluk mama seperti saat mama datang ke mimpi Deva. Deva juga baru saja ditinggal sama bapak dan ibu. Bapak, ibu orang yang rawat Deva selama ini, mereka baiik~ sekali. Kalau mama bertemu mereka tolong beri tahu jika Deva sayang dengan mereka, terimakasih sudah rawat Deva, Deva tidak akan lupakan mereka. Deva juga sayang dengan mama, meski Deva tidak bisa bertemu mama, Deva sayaaang sekali dengan mama, terimakasih sudah melahirkan Deva. Deva dan papa akan hidup bahagia sampai kita bisa berkumpul lagi nanti. Di kehidupan selanjutnya Deva mau jadi anak mama dan papa lagi dan Deva bisa tumbuh sampai besar bersama mama dan papa, sama bapak, ibu juga jadi keluarga Deva" Deva berusaha menahan tangisnya. Deva berpikir jika ia tidak boleh menangis saat berbicara dengan sang ibu agar ibunya tidak ikut bersedih.

Damian yang mendengar ucapan Deva, meneteskan air matanya dan meramalkan banyak terimakasih dan cinta pada sang istri karena sudah melahirkan putra yang sangat kuat.

Setelah dari makam, Damian membawa Deva menuju perusahaan karena ada beberapa hal yang perlu dirinya urus.

Deva memasang wajah takjub saat melihat gedung yang sangat tinggi, benarkah ini perusahaan ayahnya, pikir Deva.

Ruangan Damian berada di lantai 63, lantai paling tinggi dan hanya terdapat 4 ruangan di lantai itu. Ruang CEO utama yaitu ruangan milik Damian, ruangan pemimpin perusahan, ruang sekretaris dan ruang rapat yang dikhususkan untuk para petinggi perusahaan.

Dari lobby hingga menuju lift, Damian dan Deva menjadi pusat perhatian terutama Deva. Para karyawan terkejut saat melihat CEO mereka datang ke perusahaan setelah beberapa tahun tidak menampakkan dirinya dan yang lebih mengejutkan lagi beliau datang bersama seorang anak. Para karyawan tidak bisa melihat wajah Deva dengan jelas sebab Deva yang mengenakan bucket hat dan masker.

Ketika sampai di lantai 63, Damian dan Deva disambut oleh personal asisten Damian, Benedict Graham. Dua sekretaris perusahaan dan satu asisten dari Benedict, Joseph Stevan.

"Jo, siapkan camilan untuk tuan muda!" Perintah Benedict dilaksanakan oleh Joseph.

"Didi tunggu disana atau Didi bisa lakukan apapun yang Didi suka selama Didi menunggu papa" Damian menunjuk sofa yang ada di ruangannya.

"Kalau Deva mau lihat-lihat gedungnya boleh?" Deva mendongak agar bisa melihat wajah Damian.

"Tentu saja, nanti Joseph akan menemani Didi" bertepatan namanya disebut, Joseph memasuki ruangan dengan berbagai macam camilan dan minuman untuk putra atasannya.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang