Happy reading!!!!
Baru saja keluar dari kedai ice cream, mereka tidak sengaja bertemu seorang wanita yang sangat terkenal, terutama Matthias yang sangat mengenalnya.
Wanita itu menyapa Matthias, Dante dan Ayden karena ia hanya mengenal ketiganya.
"Kenapa kalian disini, bukannya sekarang masih jam sekolah?" Tanya wanita itu.
"Kami ada urusan." Jawab Matthias.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian matanya melihat kearah Deva yang tinggi badannya paling kecil diantara yang lain.
"Dia adik kami. Putra papa Dami." Dante yang sejak tadi diam, membuka suaranya.
"Oh benarkah. Pantas saja kamu mirip dengan uncle Dami.
Nice to meet you, aku Celine Zoe. Nama kamu siapa?"
Tidak langsung menjawab, Deva malah menatap Matthias yang berdiri disampingnya, ingin memastikan jika wanita dihadapannya adalah orang baik.
"Ayo, Didi kenalan. Ce Celine teman ko Sandi." Kata Matthias, meyakinkan Deva.
"Aku Devananta. Nice to meet you, Cece cantik." Ucap Deva malu-malu.
Wanita yang bernama Celine, merasakan panas di wajahnya karena dipanggil cantik.
🐼🐼🐼
Kabar tentang kukis milik Deva menyebar dengan cepat. Matthias dan Ayden, yang menyaksikan adegan kukis langsung menodong pada Deva, agar memberikan kukis itu juga pada mereka.
Alex dan Jayendra, juga langsung pulang untuk meminta kukis milik Deva. Begitu kegiatan kampus keduanya selesai, mereka langsung mencari sosok Deva. Seharusnya, Alex dan Jayendra masih akan tinggal di apartemen, sebab kegiatan keduanya sangat padat. Namun, demi untuk mendapatkan kukis Deva, mereka rela untuk berangkat pagi buta keesokkan harinya.
Hanya tinggal Sandika, yng masih berada di luar kota, sehingga belum mendapatkan kukis Deva. Sandika, menghubungi Deva, dan akan menagihnya setelah ia kembali.
"Didi." Panggilan dari Dylan, mengalihkan perhatian Deva dari kegiatan merakit bricks yang ia beli sepulang sekolah tadi.
"Iya, papi." Sahut Deva, menatap Dylan, dengan tatapan polosnya.
"Papi, dengar Didi, punya cookies khusus. Apa papi tidak dapat?"
Dylan, memang mendengar tentang kukis Deva, namun tidak tau apa maksudnya. Yang terpikirkan oleh Dylan, hanya kue manis yang biasanya terdapat choco chips. Mereka yang mendapatkan kukis Deva pun terlihat sangat senang.
"Papi, mau?. Disi akan beri papi, kukis juga."
Deva mendekati Dylan, yang sedang duduk di sofa, kemudian langsung menubrukkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di tubuh Dylan, meski hany bisa separuh badan yang sampai. Deva memeluk Dylan hampir satu menit, kemudian meminta Dylan, mendekatkan wajahnya sehingga mudah untuk Deva menciumnya.
Beberapa kecupan, Deva berikan di beberapa bagian wajahnya.
"Sudah." Katanya.
"Sudah?"
"Iya, papi. Kukis kupeluk and kiss." Terang Deva.
Dylan tertegun sesaat. Dan setelah paham maksud dari Deva, ia terkekeh dan menarik tubuh Deva masuk dalam dekapannya. Dylan juga membubuhkan kecupan pada wajah deva beberapa kali, melampiaskan rasa gemasnya. Bisa-bisanya keponakannya terpikirkan hal semacam itu.
