Happy reading!!!!
Damian tengah sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan bekal putranya, sambil memperhatikan iPad yang Damian taruh diatas meja dapur, mengawasi putranya yang masih tertidur melalui kamera pengawasan yang tersambung di Ipad-nya.
Sejak kejadian putranya mengalami serangan panik, Damian memutuskan tidur bersama putranya dan lebih ketat lagi menjaga putranya.
Melihat ada pergerakan putranya dari layar iPad, membuat Damian menunda acara memasaknya untuk menghampiri putranya setelah mencuci tangan dan melepaskan apron hitamnya.
Damian duduk disisi ranjang, jari-jarinya menyisir anak rambut putranya sambil menunggu putranya membuka mata.
Deva ingin mengucek matanya karena terasa gatal, namun dicegah oleh sang ayah yang digantikan matanya diusap oleh ibu jari ayahnya.
"Good morning, sayang." Sapa Damian, mengecup kedua mata putranya bergantian.
Deva diam, masih mengumpulkan kesadarannya dari rasa kantuk yang tersisa.
"Good morning, papa." Balas Deva dengan suara serak setelah kesadarannya terkumpul dan matanya sepenuhnya terbuka.
"Apa Didi tidur nyenyak?" Tanya Damian.
"Hem, Didi tidak bermimpi." Jawab Deva.
Damian menggendong putranya, membawanya ke kamar mandi untuk cuci muka dan menyikat gigi, setelahnya membawa putranya ke dapur untuk menemaninya memasak. Memberikan air putih dan buah yang sudah dipotong pada putranya sebelum melanjutkan acara memasaknya.
Satu jam berlalu, masakan Damian sudah siap semuanya, juga sudah Damian tata di kotak bekal putranya yang memiliki gambar sebuah pesawat.
Jam menunjukkan 6 lewat 20 menit, mengharuskan Damian dan Deva untuk mandi dan bersiap sebab sebentar lagi waktu untuk sarapan.
Setelah 30 menit bersiap, Damian dan Deva menuju ruang makan dan disana sudah berkumpul semua keluarganya.
"Damian, tadi ada maid yang bilang jika kamu habis memasak, kamu bisa memasak?" Tanya Elena. Tidak ada yang tahu jika Damian bisa memasak sebab Damian tidak pernah mengatakan dan menunjukkannya kecuali pada istrinya. Saat berlibur kemarin itu juga merupakan pertama kalinya Damian memasak untuk keluarganya.
"Iya." Damian menjawab singkat.
"Lalu dimana hasil masakanmu, Damian?" Tanya Henry yang juga penasaran.
"Jangan bilang papa hanya memasak untuk bekal Didi." Ucap Dante yang sejak datang ke ruang makan matanya sudah tertuju pada tas bekal yang sudah tertata rapi, ia juga ingat jika tas bekal itu dibeli saat mereka di Jepang.
"Pertanyaan ayah sudah dijawab oleh Dante." Kata Damian.
"Kenapa tidak membuatkan untuk kami juga." Keluh Dante. Dirinya ketagihan dengan masakan pamannya.
"Kalian pernah mencoba masakan Damian?" Tanya Elena, menatap seluruh keluarganya.
"Iya ibu, malam terakhir kami di Jepang, kak Damian tiba-tiba memasakkan kami ramen." Balas Dylan.
"Jika bukan karena Didi, mungkin kita tidak akan pernah merasakan masakan kak Damian." Timpal Ditrian.
Damian dan putranya berangkat dari mansion pukul 7 lewat 35 menit. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Immanuel internasional school.
Deva masuk dikelas 3-1 setelah melihat hasil nilai rapornya dari sekolah Deva sebelumnya. Dikelas hanya terdapat 14 siswa ditambah Deva menjadi 15. Ada 4 kelas dengan jumlah siswa berbeda setiap kelasnya tergantung dengan standar nilai setiap kelas.
