8. The Truth

12.3K 888 4
                                        

Sesuai perkataan Damian, kini ia sudah berada di rumah Dayat tepat pukul sepuluh malam.

Diruang tamu sederhana rumah Dayat, keduanya duduk di bangku plastik berwarna merah saling berhadapan yang hanya dihalangi oleh meja kayu berwarna coklat.

"Jadi, apa yang ingin bapak bicarakan?" Tanya Dayat memulai pembicaraan.

Damian tidak menjawab melainkan memberikan sebuah amplop putih yang terdapat logo rumah sakit.

"Apa ini pak?" Tanya Dayat lagi.

"Anda buka saja" pinta Damian.

Setelah dibuka Dayat membaca beberapa kalimat yang dapat dirinya baca sebab dalam lembar kertas itu banyak istilah medis yang tidak Dayat mengerti. Yang dapat Dayat tangkap adalah jika kertas itu adalah hasil tes DNA, namun Dayat tidak tau tes DNA siapa.

"Bisa bapak jelaskan, saya tidak mengerti apa yang ditulis disini" Dayat membalikkan kertas itu menghadap Damian.

"Saya telah menjalani tes DNA beberapa hari yang lalu dengan mengambil sampel rambut milik Deva..." ucapan demi ucapan Damian, Dayat cerna dengan seksama dan mendapatkan hasil jika hasil tes DNA keduanya cocok, dan itu artinya Deva adalah putra dari Damian.

Damian sedikit memberitahu tentang yang menimpa istri dan anaknya, Dayat terkejut dan merasa prihatin dengan apa yang menimpa Damian. Begitu berat cobaan yang Damian alami, pikirnya.

"Bisa saya tau bagaimana anda menemukan Na maksud saya Deva" Dayat tersenyum teduh, tanpa keberatan ia menceritakan bagaimana dirinya dan sang istri menemukan Deva.

A little flashback

Dayat dan Santi baru saja hendak berangkat bekerja di perkebunan, sayup-sayup keduanya mendengar suara tangisan. Merasa penasaran keduanya menelusuri suara itu dan begitu sampai di sumber suara keduanya memekik terkejut dengan apa yang mereka temukan.

Mereka menemukan balita dengan keadaan yang memprihatinkan. Balita itu terlihat lemas, kedinginan dan memiliki beberapa luka serta lebam di sekujur tubuhnya.

Mereka menemukan balita tepat dipinggiran aliran air yang saat itu sedang naik sebab hujan yang beberapa hari melanda desa, dan jika balita itu jatuh sudah dapat dipastikan dia akan terbawa arus.

Dayat segera membawa balita itu ke gendongannya dan menyelimuti balita itu dengan baju yang dikenakannya agar balita itu merasa hangat.

"Cepat bawa ke bidan pak!" Perintah Santi panik.

Keduanya membawa balita itu ke bidan desa agar cepat mendapat pertolongan. Keadaannya balita itu sangat lemah dan kelaparan. Wajah pucat-nya dapat membuat siapa saja yang melihat merasa kasihan.

Selesai memeriksa balita itu, sang bidan menggantikan pakaiannya dengan pakaian hangat milik anaknya.

Si bidan menanyakan beberapa hal tentang bagaimana Dayat dan Santi menemukan balita itu dan mereka menjawab sesuai apa yang terjadi.

"Jika menyerahkannya ke polisi kemungkinan besar balita ini akan berakhir di panti asuhan" ucap sang bidan.

Dayat dan Santi yang mendengar ucapan sang bidan merasa tidak rela jika harus menyerahkannya ke panti asuhan.

"Kalau kita ingin mengurusnya bagaimana Bu?" Tanya Santi penuh harapan.

Santi dan suaminya sudah sejak lama menginginkan seorang anak, namun apalah daya jika takdir tidak menghendaki, dan seperti sudah ditakdirkan keduanya bertemu dengan balita itu membuat harapan mereka kembali muncul. Meski tidak melahirkan langsung, Santi sudah memiliki rasa sayang dan cinta pada balita itu.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang