Happy reading!!!!
Kamar Dante terasa begitu ramai. Bukan hanya pemiliknya, kamar itu dipenuhi dengan suara game dari layar 43 inci dan kedua temannya. Bunyi tekanan joystick tidak luput untuk meramaikan kamar Dante.
Bhaskara dan Matthias sebagai pelaku utama yang tengah bermain playstation kepunyaan Dante, namun, suara yang terdengar adalah milik Bhaskara, Erlangga dan Dante sendiri.
Deva hanya memperhatikan kedua kakaknya dan dua temannya bermain, dirinya tidak mengerti dengan permainan yang ada dilayar.
Dante yang menyadari Deva hanya diam dengan tatapan bingung berinisiatif mengambilkan camilan biscuit cracker. Setidaknya Deva tidak melamun.
Bukannya mengambil camilan yang diberikan Dante, Deva malah memegang tangan Dante dan mengarahkan ke mulutnya dengan tujuan agar Dante menyuapinya.
Dante mengecupi pucuk kepala Deva sebagai pelampiasan rasa gemasnya. Dalam pandangan Dante, Deva makan seperti kelinci.
Patahan dari camilan yang Deva makan, Deva berikan ada Dante dengan menyuapinya dan diterima baik oleh Dante.
Matthias yang tidak mendengar celotehan Dante lagi, mengalihkan pandangannya dari layar. Dalam pandangan Matthias, Dante dan Deva tengah bermesraan tanpa melibatkan dirinya. Hal itu membuat Matthias merasa cemburu. Melemparkan joystick yang dipegangnya pada Bhaskara agar menggantikannya, sedangkan Matthias sendiri bergabung dengan kemesraan Dante dan Deva.
"Gantikan aku." Ujar Matthias.
Bhaskara hanya bisa menatap bingung Matthias.
Kesenangan mereka berlima terganggu oleh suara dering ponsel milik Erlangga.
"Ya." Seru Erlangga setelah menerima panggilan teleponnya.
"Di mansion Manuella."
"Baik."
Hanya itu yang Deva, Dante, Matthias, dan Bhaskara dengar dari Erlangga.
"Aku tidak tibak bisa ikut makan malam karena ayahku memintaku pulang." Ucap Erlangga, sembari membereskan barang miliknya.
"Ada apa?" Tanya Matthias.
"Entahlah, aku diminta untuk makan malam bersamanya." Jawab Erlangga, dengan mengangkat bahu kirinya.
🐼🐼🐼
Malam harinya Damian kembali menghubungi Deva, melalui panggilan video.
"Papa, papa sudah selesai bekerja?" Tanya Deva.
"Sudah, sayang." Balas Damian, setengah jujur.
Deva dan Damian berbincang. Deva menceritakan kegiatannya seharian, hingga Deva merasa mulai mengantuk.
"Sudah waktunya Didi tidur. Jangan lupa gosok gigi, cuci tangan dan kaki, dan pakai lotionnya." Ujar Damian mengingatkan.
"Eum."
Sebelum panggilan ditutup, Deva teringat akan keinginannya sore tadi.
"Papa!" Panggil Damian.
"Ya, sayang."
"Eum... Didi ingin berangkat sekolah bersama Koko." Pinta Deva ragu.
Damian berpikir jika putranya ingin berangkat bersama Ayden, dan membuatnya nanti akan meminta Ayden agar bisa pergi sekolah bersama.
"Okay, nanti papa akan bicara dengan Ayden agar..."
Ucapan Damian disela oleh Deva.
"Bukan Koko Ai, papa. Didi mau berangkat bersama Koko Dante dan Koko Matt, naik motor."
