52. Business Trip

3.4K 277 25
                                        

Happy reading!!!!








Damian dan Benedict tengah melakukan perjalanan menuju bandara, dengan mobil yang dikendarai oleh driver perusahaan.

Dalam perjalanan Benedict banyak melaporkan tentang pekerjaannya dan memberikan informasi yang tuannya inginkan.

"Tuan, informasi mengenai pengirim anonim yang mengirimkan foto sudah saya dapatkan." Benedict menyerahkan iPad kerjanya.

"Harrison, orang yang mengirim paket anonim tersebut atas perintah Lionel Winter yang pernah berseteru dengan anda 18 tahun yang lalu karena perebutan lelang tambang." Sambung Benedict.

"Apa hubungan mereka?" Tanya Damian.

"Saya belum mengetahui dengan jelas hubungan antara Lionel dan beliau, tuan. Akan saya cari tahu lebih lanjut secepatnya."

Ditengah Benedict memberikan laporan pada Damian, ponsel Damian berbunyi. Dan saat dilihat, tertera nama Diandra.

"Halo, mama." Sapa Damian, ketika ponselnya dilekatkan pada telinganya.

"Dami, apa kabar?" Tanya Diandra setelah menjawab sapaan Damian.

"Saya baik, ma. Mama juga apa kabar?"

Diandra menjawab jika ia baik-baik saja. Diandra juga menanyakan kabar cucu bungsunya.

"Dami sedang sibuk?, maafkan mama jika mama mengganggu pekerjaanmu." Ujar Diandra tidak enak hati karena menghubungi Damian saat di jam kerja.

"Mama tidak mengganggu saya. Saya masih dalam perjalanan untuk keluar kota." Damian memberitahukan juga untuk tidak sungkan jika ingin menghubunginya kapan pun.

"Jika Dami keluar kota, Didi bersama siapa?, apa adik-adikmu yang menemani Didi?"

"Adik-adikku menjaga Didi, jadi mama tidak perlu khawatir. Didi juga bersama ibu Tari. Mama masih ingat ibu Tari bukan?"

"Tari, maksudmu Lestari?, apa Lestari kembali bekerja lagi?" Diandra terkejut saat mendengar nama yang sudah lama sekali tidak didengarnya. Wanita baik yang Diandra syukuri karena selalu ada bersama Damian.

"Iya, ibu Tari yang membesarkan saya dulu. Ibu Tari hanya membantu saya untuk menjaga Didi selama saya berada diluar kota. Saya sempat memintanya untuk kembali tinggal bersama saya, namun ibu Tari menolak. Jika mama ingin bertemu ibu Tari, mama bisa datang ke mansion."

Damian dan Diandra berbincang hingga mobil yang dikendarai Damian sampai di bandara.

"Mama, saya dan Didi akan datang Minggu siang nanti. Boleh saya meminta tolong?" Ujar Damian.

"Tentu, Dami tidak perlu sungkan. Apa yang bisa mama bantu?"

"Saya meminta tolong agar mama bisa memasakkan makanan kesukaan Didi saat kami datang nanti." Permintaan sederhana dari Damian, namun sangat sulit untuk diutarakan. Damian merasa sangat tidak tahu diri untuk meminta sesuatu pada Diandra setelah kenyataan yang belum lama ini dirinya ketahui.

"Dengan senang hati, Dami, tanpa kamu meminta mama akan buatkan semua makanan yang Didi sukai. Lalu, kamu sendiri ingin mama buatkan apa?"

Pertanyaan dari Diandra justru membuat rasa bersalahnya semakin besar. Damian terdiam beberapa saat sebelum membalas pertanyaan Diandra.

"Saya tidak ingin merepotkan mama..." Perkataan Damian terpotong oleh suara Diandra.

"Mama tidak merasa direpotkan. Bagaimana dengan donat gula, Dami sudah lama bukan tidak memakannya, lalu mama juga akan buatkan teh camomile untukmu." Timpal Diandra. Diandra tahu jika terjadi sesuatu dengan Damian, dari cara bicara Damian yang biasanya tegas kini terdengar rapuh.

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang