Happy reading!!!!
Seperti perkataan Damian yang akan berkunjung ke kediaman Sukma di hari Minggu. Kini Damian dan Deva langsung disambut oleh Diandra dan dibawa menuju ruang makan. Tidak ketinggalan, mereka semua meminta kukis Deva.
Di meja telah tersedia berbagai hidangan, namun yang nampak sangat menonjol terdapat beberapa olahan udang dan tentunya tidak ketinggalan bakso udang kesukaan dari Deva.
"Amah, Didi mau bakso udang lagi." Pinta Deva, setelah menghabiskan mangkuk pertamanya.
Diandra dengan senang hati memberikannya pada Deva.
Disaat Deva makan dengan lahap, berbeda dengan Damian yang hanya diam menatap makanan di piringnya.
"Dami, kenapa diam saja?, apa kamu ingin makan yang lain, biar mama buatkan?"
Diandra dengan begitu perhatian bertanya pada Damian.
Damian hanya menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan acara makan siang mereka.
Setiap berada di keluarga Sukma, Damian merasakan hangatnya sebuah keluarga. Bagaimana perhatiannya Diandra sebagai seorang ibu, bijak dan tegasnya Adrian sebagai seorang ayah, serta suportifnya Athala sebagai saudara. Damian sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Semua itu pertama kali Damian rasakan saat berada di keluarga Sukma.
Setelah acara makan siang selesai, Hazellio membawa Deva menuju gazebo yang dibangun ditengah kolam ikan koi.
"Mau beri makan?" Tanya Hazellio menawarkan.
Deva mengangguk, laku menerima pakan ikan dari Hazellio. Setelah menaburkan pakan ikan, seketika ikan-ikan itu bergerumul berebut makanannya. Deva terlihat tertarik melihat ikan yang berebut makanan dan kembali menaburkan pakan ikan.
"Koko, ikannya besar-besar sekali, pasti dagingnya banyak."
Hazellio terdiam mendengar ucapan adiknya. Bagaimana dirinya akan menjelaskan hal ini?.
"Ikannya tidak bisa dimakan, Didi."
Deva agaknya terkejut mendengar perkataan kakaknya. Bagaimana mungkin ikan sebesar ini tidak bisa dimakan, rugi sekali.
"Kalau tidak bisa dimakan kenapa dipelihara?" Tanya Deva. Terlihat jika ia sangat penasaran.
"Kalau Didi ingin tahu, tanyakan pada Akung, karena ikannya milik Akung." Balas Hazellio. Dirinya akan menyerahkan pertanyaan berat itu pada kakeknya.
🐼🐼🐼
"Sesuai janji mama, mama sudah buatkan Dami donat gula."
Diandra menyajikan donat gula untuk Damian serta teh camomile.
Damian yang tidak juga mengambil donat gula membuat Diandra bergerak mengambil satu donat gula yang disajikan di piring kecil untuk diberikan pada Damian.
Diandra tersenyum hangat saat Damian menatapnya saat menerima donat darinya.
"Ma-"
Ucapan Damian dihentikan oleh Diandra yang memintanya untuk makan lebih dulu sebelum bicara.
"Kita makan donat dulu baru bicara, tadi juga Dami hanya makan sedikit. Damian bisa bicara apapun setelah itu."
Suara lembut Diandra membuat dada Damian semakin terasa sesak. Pada gigitan pertama, air mata Damian jatuh begitu saja, semakin mulutnya bergerak untuk mengunyah, semakin banyak juga bulir air mata yang jatuh.
Diandra yang melihat Damian yang justru menangis, manarik napas dan menghembuskannya pelan. Tangannya bergerak menghapus air mata Damian.
Perasaan Diandra, campur aduk melihat Damian, yang saat ini tengah menangis. Karena tidak tahan, Diandra, memeluk Damian, dan malah membuat tangis Damian semakin pecah.
