Deva bangun lebih dulu dari sang ayah. Ia sudah tidak sabar pergi ke taman untuk olahraga pagi sesuai janji sang ayah kemarin.
"Papa, wake up" bisik Deva, sembari mengecupi pipi sang ayah dari atas tubuhnya.
Sebenarnya, Damian sudah bangun saat Deva naik ke atas tubuhnya. Ia hanya ingin menunggu apa yang akan putranya itu lakukan.
"Papa...wake up" seru Deva, masih dengan bisikannya.
Damian langsung menyerang Deva dengan kecupan bertubi-tubi, membuat Deva tertawa karena merasakan geli.
"Putra papa bangun pagi sekali" ucap Damian.
"Ayo, ke taman sekarang" pinta Deva.
Melihat putranya yang sudah tidak sabar untuk pergi ke taman, Damian meminta Deva untuk gosok gigi dan membasuh wajahnya, sedangkan dirinya akan menyiapkan pakaian untuk putranya.
Sleeveless dan training panjang menjadi outfit Deva, dipadukan dengan sepatu sport berwarna putih. Sedangkan Damian mengenakan jacket sport dan training pendek, dipadukan dengan sepatu yang sama seperti putranya.
Setelah melakukan pemanasan, sepasang ayah dan anak itu memulai lari pagi mereka.
Karena Damian olahraga bersama putranya, tentunya kecepatannya mengikuti sang putra. Beberapa kali keduanya juga berhenti sebab rasa penasaran Deva pada apa yang dilihatnya di jalan.
"Papa, ada mushroom" tunjuk Deva, memberitahu ada jamur yang tumbuh di batang pohon yang sudah tumbang ditepi jalan.
Beberapa jenis jamur tumbuh di batang pohon itu. Saat Deva hendak menyentuhnya, Damian menghentikannya lebih dulu, Damian takut jika jamur itu beracun.
"Didi, jangan sembarangan menyentuhnya. Kita tidak tau jamurnya beracun atau tidak" ujar Damian, menjelaskan.
Perjalanan keduanya lanjutkan, hingga tiba di taman, tempat tujuan awal mereka. Di taman, sudah banyak pengunjung dari berbagai usia. Dari balita hingga yang berusia lanjut datang meramaikan taman.
Ada beberapa fasilitas di taman tersebut, seperti tempat bermain anak-anak, area untuk bermain scooter atau sepatu roda, dan lainnya.
Keringat sudah tampak membasahi kening Deva, bahkan rambut depan milik Deva terlihat lepek, namun, tidak dengan wajah berserinya ketika melihat ramainya taman.
Mata Deva menangkap satu kucing liar kecil berwarna hitam sedang menjilati kaki depannya. Deva ingin mendekati kucing itu, namun sayangnya kucing itu berlari menjauh darinya.
Damian hanya duduk memperhatikan apa yang dilakukan putranya, sebab dirinya tidak akan melarang apapun selagi itu tidak membahayakan.
Saat Damian tengah fokus memperhatikan Deva yang bermain di area bermain anak-anak, ia merasa menghirup aroma tembakau yang dibakar. Matanya meliar, mencari sumbernya. Dan ketika objek yang dicarinya ditemukan, rahang Damian mengeras.
Damian melihat seorang pria sedang menghisap batang nikotin itu tanpa rasa bersalah. Sedangkan pria itu tengah mendorong sepeda beroda tiga yang terdapat seorang batita berusia sekitar 1 sampai 2 tahun.
Damian hendak menghampiri pria itu untuk memberinya peringatan, namun langkahnya terhenti oleh Deva.
"Papa, mau kemana?" Tanya Deva, ketika melihat ayahnya ingin pergi.
"Papa tidak akan kemana-mana, papa punya urusan dengan orang itu. Didi bisa tunggu disini sebentar" ujar Damian, tangannya juga menunjuk oleh pria perokok tadi.
"Bisa, Didi akan tunggu papa" Deva menganggukkan kepalanya.
Damian menghampiri pria perokok itu. Inginnya, Damian langsung menghajar pria itu, namun ia akan menggunakan cara baik-baik lebih dulu.
Damian dan pria itu terlibat cekcok. Damian yang sudah meminta baik-baik agar pri perokok itu mematikan rokoknya sebab menimbulkan ketidaknyamanan serta terdapat banyak anak-anak, terlebih pria itu juga membawa seorang anak. Namun, pria itu dengan angkuhnya mengabaikan ucapan Damian dengan mengatakan jika taman ini bukan milik Damian, jadi Damian tidak memiliki hak untuk melarangnya.
Damian menendang tukang kering pria itu cukup kuat hingga membuat pria itu mengasuh kesakitan, lalu menghubungi Benedict untuk membeli taman itu dan memasukkan nama pria perokok itu kedalam daftar hitam.
Ditengah kesakitannya sebab tukang keringnya ditendang oleh Damian, pria itu tercengang dengan ucapan Damian yang akan membeli taman.
"Jika kau ingin merusak tubuhmu lakukan sendiri, jangan mengikutsertakan orang lain" ujar Damian dan menendang sekali lagi tulang kering pria itu yang satunya.
Damian sangat membenci mereka yang merokok dijalanan dan tempat umum. Dirinya tidak masalah bagi mereka yang merokok asalkan pada tempatnya.
Part ini aku buat sebagai bentuk kekesalanku sama orang yang ngerokok di tempat umum. Beberapa hari yang lalu aku dijalan pulang dari lari pagi aku ketemu orang yang ngerokok sambil momong anak pakai sepeda roda tiga. Kayak, anda itu gak sayang anak apa ngerokok dekat anak-anak. Dan kejadian kayak gitu gak satu dua kali aku temuin.
Buatnya singkat aja yang penting isinya tersampaikan, dan aku buat Damian disini sebagai tameng karena aku kesel banget.
