Aku mau chit chat dikit sama kalian(◍•ᴗ•◍)
Sebelumnya maaf ya baru bisa update, karena aku belum sempet nulis.
Setiap aku mau update ada perasaan takut juga. Kayak ini ceritanya nyambung gak ya, masuk akal gak ya atau ceritanya aneh gak sih.
Jadi maaf banget kalau cerita yang aku buat gak sebagus penulis lain dan tulisan aku berubah-ubah, karena aku masih belajar dan cerita setiap chapternya itu spontanitas.
Aku juga mau kasih disclaimer kalau cerita ini fiksi ya, jadi kalau ada kiranya yang gak masuk di logika dimaklumi aja, karena aku pun kadang baca cerita yang gak masuk logika aku. Aku juga sering berpikir kalau cerita aku kadang gak bisa diterima secara logika.
Happy reading!!!!
Rencananya, Damian akan membawa putranya ke kota setelah makan siang. Dan karena makan siang masih satu jam lagi, Damian habiskan dengan menghabiskan waktu bersama putra dan keluarganya sambil mencaritahu apa yang terjadi dengan putranya akhir-akhir ini.
"Didi mau liburan kemana?" Tanya Ayden.
"Heem, tidak tahu, Didi tidak pernah kemanapun selama liburan sekolah waktu bapak dan ibu masih ada" balas Deva.
"Didi mau main salju?" Tanya Dante. Di negara 4 musim sudah memasuki musim dingin, pasti seru bisa bermain salju bersama adiknya, pikir Dante.
"Memang disini ada salju?" Deva menelengkan kepalanya tanda dirinya bingung.
Mereka merasa gemas dengan Deva, apalagi Sandika yang duduk disamping langsung memeluk Deva gemas.
"Kita akan keluar negeri, lebih seru jika menyaksikan langsung saat salju turun" kata Ayden.
"Didi mau ketempat lain?" Tanya Damian yang belum mendengar jawaban putranya, apakah putranya mau pergi atau tidak.
"Tidak, Didi mau lihat salju" kata Deva yakin.
"Kalau begitu kita akan berangkat setelah pasport Didi jadi" ucap Damian.
Setelah makan siang, mereka bersiap akan berangkat untuk kembali ke kota tentunya bersama Deva yang akan menetap. Sebelum berangkat Deva dihampiri keluarga Baron untuk mengantar keberangkatannya.
"Deva, jangan lupain aku ya, kamu harus sering-sering main kesini" kata Banu setelah keduanya berpelukan.
"Kamu hati-hati ya, aku pasti bakal kangen main sama kamu. Kalau udah punya teman baru jangan lupain aku" ujar Farhan dalam pelukan Deva.
"Kakak Deva gak akan kesini lagi, nanti siapa yang baik sama Cika. Nanti siapa yang marahin A' Farhan waktu A' Farhan nakal" suara Cika terdengar sedih. Deva sangat baik pada Cika, yang menjaga Cika, yang selalu berbagi dengan Cika, jadi saat Deva akan pergi Cika merasa sedih.
"Cika yang akur ya sama A' Farhan, nanti kakak Deva sering-sering kesini main sama Cika"
Selesai berpamitan dan diberi nasihat oleh Baron dan istrinya, Deva dan keluarganya mulai meninggalkan rumah milik Dayat.
🐼🐼🐼
Deva kini bangun lebih pagi lagi, sekitar jam 4 lewat 40 menit sebab semalam setelah makan malam Deva langsung tertidur akibat kelelahan perjalanan jauh dari desa ke kota.
Setelah dari kamar mandi habis cuci muka dan sikat gigi, Deva hendak keluar kamar. Namun Deva teringat kejadian ayahnya yang mencarinya membuat Deva urung lalu menuju kamar ayahnya. Sebelum masuk Deva mengetuk pintu kamar ayahnya dari pintu penghubung di kamarnya yang langsung mendapat sahutan dari si pemilik kamar.
