49. Clingy

4.3K 352 11
                                        

Happy reading!!!!











Setelah selama satu Minggu Deva dirawat, akhirnya Deva diperbolehkan untuk pulang oleh dokter Dharma.

Selama sakit, Deva mengalami banyak penurunan berat badan. Itu terlihat dari pipi yang tadinya terlihat bulat, namun kini terlihat tirus, bahkan tangan Deva terlihat mengecil dan banyak dari celananya yang melonggar dibagian pinggang.

Selain berat badan Deva yang berubah, sifat Deva juga berubah. Bukan ke hal buruk, justru hal itu sangat disukai oleh Damian dan keluarganya yang lain.

Deva yang awalnya masih malu-malu untuk memberikan ciuman pada keluarganya, tanpa aba-aba sering mencium keluarganya. Terlebih lagi pada Damian. Jika ada kesempatan Deva akan mengecupi wajah ayahnya itu dan bersikap manja.

Mobil range Rover hitam yang dikendarai oleh Benedict melaju dengan kecepatan sedang, membawa sang tuan untuk kembali ke mansion yang sudah satu Minggu tidak ditinggali.

Melalu kaca tengah mobil, Benedict melihat interaksi sepasang ayah dan anak yang tertawa bahagia membuatnya juga ikut merasakan bahagia.

Mobil itu dipenuhi dengan tawa renyah yang lucu dari Deva. Keduanya tengah bermain adu jempol, dan siapa yang berhasil menindih jempol lawan, dia akan memenangkan permainan.

Jari-jari kecil Deva terkait dengan jari-jari Damian yang besar, setelah Deva menghitung sampai tiga permainan dimulai.

"1..2..3..go." Seru Deva.

Damian tidak berniat untuk melawan, ia hanya selalu menghindar dari ibu jari Deva agar tidak ditindihnya.

"Didi kurang cepat." Ujar Damian.

Mendengar ucapan sang ayah membuat jiwa ambisinya menggelora, dan bertekad untuk memenangkan permainan.

Setelah beberapa kali usaha akhirnya Deva bisa menindih ibu jari ayahnya. (Ada andil mengalah dari Damian). Deva tertawa karena bisa memenangkan permainan.

"Didi wins." Seru Deva senang.

Yang kalah permainan akan ditempeli stiker. Stiker itu Deva dapat dari Erlangga yang kemarin datang lagi ke rumah sakit.

Deva menempelkan stiker dengan karakter panda di pipi kiri sang ayah, lalu pipi itu Deva kecup hingga menimbulkan bunyi.

Permainan keduanya lanjutkan, dan kini Damian pemenangnya. Setelah menempelkan stiker pada hidung putranya, Damian mengecupi seluruh wajah putranya hingga membuat Deva tertawa karena merasakan geli dari ciuman kupu-kupu Damian.

Perjalanan yang memakan waktu 50 menit tidak terasa bagi mereka. Mendengar suara tawa Deva membuat suasana menjadi tidak membosankan, justru mereka menjadi candu dengan tawa itu. Bahkan keduanya tidak sadar jika sudah sampai jika bukan Benedict menginterupsi kegiatan keduanya.

"Kita sudah sampai, tuan."

Benedict membukakan pintu penumpang untuk tuannya dan menunggu kedua tuannya itu keluar dari mobil.

Deva yang berada dalam gendongan Damian keluar dari mobil. Tangan Deva tidak hentinya menusuk pipi sang ayah, lalu mengecupnya. Hal itu Deva lakukan berulang kali. Bahkan interaksi mereka disaksikan oleh kedua keluarga, Manuella dan Sukma.

Semenjak kedatangan Deva, mereka bisa melihat sisi lain dari Damian yang sudah lama hilang. Bukan hanya Damian yang berubah, tetapi, suasana keluarga Manuella juga ikut berubah. Setelah kepergian Deva dan Athalia, keluarga Manuella menjadi individualis.

"Didi nampak senang sekali, apa yang sedang kalian bahas?" Tanya Ditrian.

"Didi dan papa bermain tadi selama di mobil, terus papa sering kalah." Balas Deva.

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang