Happy reading!!!!
Di sekolah, Ayden bersama dua sahabatnya mendatangi Michella yang duduk bersama dua temannya. Gadis itu tersipu ketika laki-laki yang disukainya menghampirinya.
Ayden dengan rahang keras menahan amarah menatap tajam Michella.
"Ayden, kenapa tatap aku seperti itu?" Tanya Michella kaku.
"Christine." Ayden memberi kode pada seorang gadis yang berdiri dibelakangnya dengan gerakan kepala.
Dua orang gadis memegang kedua tangan Michella, salah satunya bernama Christine.
"A-apa-apaan ini, kenapa aku dipegangi seperti ini? Ayden." Seru Michella. Ia memberontak dari pegangan kedua gadis yang terkenal seorang atlet panah.
Perbuatan Ayden mengundang banyak perhatian dari warga sekolah, terutama yang sedang berada di kelas Michella.
"Kau, harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Ayden menekan setiap ucapannya.
Ayden membawa Michella ke ruang konseling. Disana ayah dan paman keduanya sudah menunggu. Inginnya Ayden langsung yang memberi pelajaran pada Michella, namun dicegah oleh paman pertamanya.
Ketika sampai di ruang konseling, tidak hanya ada sang ayah dan paman keduanya, kakek dan nenek Sukma, serta Athala juga sudah berada di ruangan itu.
"Thanks." Ucap Ayden, yang tertuju pada dua gadis yang membantunya.
Christine dan Kimberly saling pandang ketika mendengar ucapan terimakasih dari Ayden.
"First time, seorang Ayden mengucapkan terimakasih." Ujar Christine.
Kimberly mengangguk setuju, "tapi di dunia ini gak ada yang gratis." Tambahnya.
"Mau apa, ponsel, macbook, perhiasan, sepatu, uang?" Tanya Ayden.
Kedua gadis itu sempat ternganga akan tawaran Ayden, namun keduanya secepatnya menyadarkan diri.
"Enggak, kalau itu kita juga mampu beli sendiri. Bawa kita ketemu adik kamu aja." Tolak Christine akan tawaran Ayden, lalu menyebutkan permintaanya.
"Saya ijin papa dulu, saat ini belum ada yang boleh datang kecuali keluarga inti." Kata Ayden.
"Oke, kita tunggu." Ucap Kimberly.
"Gue juga ikut." Timpal Jovan.
"Gue juga." Tristan menambahi.
Ayden hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu ia masuk ke ruang konseling, ingin melihat apa yang akan para orang tua itu lakukan.
"Ayden, kamu kembali ke kelas!" Perintah Dylan ketika putranya baru masuk ruangan.
"Tidak." Tolak Ayden.
"Ayden,..." Ucapan Dylan terpotong oleh Ayden.
"Kejadian ini pasti berhubungan dengan Koko juga." Ujar Ayden.
"Ayden, kemari nak." Pinta Diandra, menepuk sofa kosong disebelahnya. Ayden menurut.
Yang menyandang nama Manuella dan Sukma memandang Michella marah, membuat si gadis merasa terpojok.
"Kenapa kamu memberikan minuman kadaluwarsa pada Devananta?" Tanya Ditrian penuh penekanan.
"Jawab." Sentak Ayden, dingin.
"S-saya tidak memberikannya." Ucap Michella mengelak.
"Jangan berkilah, I saw it." Sergah Ayden.
"Saya memiliki bukti jika kamu yang memberikannya, dan itu akan cukup dibawa sebagai bukti percobaan pembunuhan." Ujar Athala penuh penekanan. Dirinya sangat marah ketika mengetahui ada yang meracuni kesayangannya dengan minuman kadaluwarsa.
