Update sekarang deh. Karena beberapa hari kedepan aku bakal sibuk banget(-_-;)
Happy reading!!!
Setelah menunggu hampir seminggu, pasport milik Deva akhirnya jadi bersamaan dengan visa juga. Dan kini keluarga Manuella tengah bersiap akan pergi ke bandara untuk menghabiskan waktu liburan mereka selama 10 hari di negeri sakura. Tidak hanya keluarga Manuella, keluarga Sukma juga turut hadir untuk liburan pertama kali bersama Deva. Kedua keluarga itu akan bertemu di bandara.
"Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Elena pada semua orang, yang dijawab gelengan atau seruan 'tidak'.
Mereka menggunakan mobil Van agar semua orang bisa berada di satu mobil, yang dikendarai oleh driver keluarga dan diikuti oleh beberapa mobil bodyguard.
Sesampainya di bandara, keluarga Sukma serta Benedict dan Joseph sudah berkumpul.
"Amaah" seru Deva berlari menghampiri Diandra.
"Jangan berlari, sayang" ucap Diandra setelah Deva berada dalam pelukannya, tidak lupa Diandra mengecupi seluruh bagian wajah Deva dari balik masker yang Deva kenakan.
Celana chino panjang berwarna khaki, kaos biru pendek yang dilapisi crewneck putih sebagai luaran dan Beanie hat kuning mustard serta sepatu sneaker putih yang menjadi pelengkap, menjadi outfit bandara Deva. Sedangkan Damian mengenakan turtleneck berwarna hitam yang dipadukan dengan Coat hitam, celana chino berwarna cosmic latte, sepatu pantofel hitam dengan kacamata hitam sebagai pelengkap.
Setelah pengecekan pasport dan visa mereka memasuki jalur khusus untuk menuju private jet yang sudah stand by. Private jet yang mereka gunakan milik Deva, hadiah ulang tahun dari Damian. Ukurannya lebih kecil dibandingkan milik Damian, namun Damian ingin memberitahu apa saja yang dimiliki putranya.
Lebih dari 7 jam mereka melakukan perjalanan udara. Satu jam pertama Deva masih bersemangat, apalagi saat bisa melihat awan yang terasa dekat. Setelahnya Deva merasa lelah dan memutuskan untuk tidur di kamar yang tersedia ditemani oleh Damian yang sedang bekerja.
Mereka sampai di bandara Tokyo pukul 5 sore waktu Tokyo. Setelah selesai dari urusan imigrasi, mereka keluar dari bandara melalu jalur khusus dan mobil jemputan mereka sudah siap di depan pintu keluar.
Membutuhkan waktu 1 jam untuk menuju penthouse, tempat yang akan mereka tinggali selama liburan. Penthouse itu milik Damian, yang berada di lantai tertinggi dengan harga yang paling mahal saat Damian membelinya.
"Kamarku dengan Didi ada disana" tunjuk Damian kearah kamarnya, "kamar papa dan mama disana" Damian menunjuk lawan arah dari pintu kamarnya, "ibu dan ayah ada dilantai dua tepat didepan tangga, sisanya kalian atur sendiri" ucap Damian.
Ini pertama kali keluarganya tinggal di penthouse milik Damian. Awalnya Damian memberikan penthouse ini untuk istrinya, dan semua dekorasi dan tata letak perabotan diatur oleh istrinya.
"Jangan ada yang merubah susunan tempat ini" peringat Damian, setelahnya mengajak putranya untuk beristirahat di kamar.
Damian meletakkan koper miliknya dan milik putranya disudut ruangan, lalu melepaskan Coat milik putranya yang baru dipakai saat pesawat sudah landing.
"Didi pusing?" Tanya Damian. Putranya terlihat lelah dan pasti mengalami jet lag karena ini pertama kalinya putranya naik pesawat setelah 6 tahun menghilang.
Deva mengangguk lesu dengan bibir yang sedikit mengerucut membuat Damian gemas.
"Didi tidur dulu, nanti akan papa bangunkan saat makan malam" kata Damian, menuntun putranya untuk berbaring di ranjang.
