Happy reading!!!
Deva sedang memperhatikan Alex dan Jayendra bermain basket.
Deva bangun sekitar jam 5 pagi seperti kebiasaannya, karena di kamarnya tidak ada siapapun ia keluar dan turun ke lantai 1. Keadaan mansion memang sudah terang dan banyak aktivitas, namun Deva hanya melihat para pekerja yang memang mereka sudah mulai bekerja dari jam 3 pagi.
"Tuan muda!" Seru pelayan terkejut melihat tuannya berdiri didekat tangga.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan muda?" Tanya pelayan itu yang dengan cepat merubah ekspresi terkejutnya menjadi tersenyum.
"Aku mau ambil minum" Deva menunjukkan gelas kosongnya.
"Anda bisa tunggu di sofa, saya yang akan ambilkan anda minum"
"Aku bisa ambil sendiri kok"
"Sudah tugas kami untuk melayani tuan rumah ini, tuan muda"
Deva akhirnya pasrah, lalu ia menunggu di sofa ruang keluarga sambil menghidupkan televisi setelah ditawari oleh pelayan tadi.
Pelayan tadi membawakan air minum permintaan Deva dan 3 cookies untuk camilan tuan mudanya.
Deva masih betah menonton serial animasi dari jepang yang berjudul ponyo sambil memakan cookies, dan saat cookies ketiganya masih ada setengah ditangan kantuk menyerangnya. Biasanya dirinya tidak mengantuk saat bangun pagi, apa karena hanya duduk diam yang membuatnya mengantuk, pikir Deva.
Suara keributan mengganggu Deva yang belum sepenuhnya terlelap, sayup-sayup ia mendengar suara ayahnya yang terdengar marah.
"Maaf tuan, tuan muda Deva ada di ruang keluarga tengah menonton" beritahu pelayan yang melayani Deva tadi. Pelayan itu baru datang dari tempat penyimpanan makanan jadi ia baru mendengar jika tuannya tengah mencari sang putra.
Damian yang melihat putranya berbaring diatas sofa merasa sangat lega. Tubuh Deva langsung direngkuh Damian dan didekap erat seakan jika rengkuhan itu melonggar putranya akan pergi.
"Papa" suara parau Deva menginterupsi Damian, membuat dekapan itu melonggar digantikan kecupan di seluruh wajah Deva.
"Jangan pergi tanpa memberitahu papa" dipeluknya tubuh Deva lagi sambil dikecup puncak kepala Deva.
Damian terbangun 30 menit lebih pagi dari biasanya, jam masih menunjukkan pukul 5 lewat 10 menit. Setelah dari kamar mandi Damian berniat untuk melihat putranya, namun saat sampai, tidak ada keberadaan sang putra bahkan di kamar mandi pun Damian tidak menemukan putranya.
Damian langsung mencari di seluruh lantai dua dan sampai lantai satu. Damian sampai memarahi semua pelayan dan bodyguard serta mengancam akan memberi mereka hukuman atas kelalaian mereka sampai salah satu pelayan datang padanya memberitahu keberadaan sang putra baru membuat amarahnya reda.
Saat tidak menemukan keberadaan putranya, ketakutan Damian muncul kembali. Takut kejadian 6 tahun lalu saat dirinya kehilangan istri dan anaknya terulang.
Keributan Damian membangunkan seluruh anggota keluarga, mereka bersamaan mendekati Damian dan Deva yang masih berpelukan untuk mencaritahu apa yang terjadi.
Salah satu pelayan menjelaskan apa yang terjadi membuat mereka paham dan maklum atas sikap Damian. Setelah memastikan keduanya baik-baik saja, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap lebih awal. Begitupun dengan Damian dan Deva yang sudah puas berpelukan.
Setelah sarapan mereka meninggalkan meja makan untuk melakukan rutinitasnya, pergi ke kantor, kuliah, dan sekolah, termasuk Damian yang harus terpaksa meninggalkan putranya di mansion sebab ada pekerjaan yang tidak bisa dirinya tunda atau digantikan orang lain.
