Mau dibaca atau enggak terserah kalian, karena ini isinya tentang Benedict dan sedikit latar belakangnya, asistennya Damian. Biasanya asisten atau sekretaris macam Benedict kurang banyak perhatian karena gak banyak yang menceritakannya (itu cerita yang aku baca selama ini). Tapi aku mau kasih tau aja kalau kisahnya Benedict gak kalah rumit sama kisahnya Damian. Tapi kalau mau baca usahakan sampai akhir ya, karena aku taruh beberapa fun fact yang gak bisa aku masukin dalam script.
Happy reading!!!!
Benedict Graham, pria lajang berusia 43 tahun yang lahir dari sendok emas justru memilih bekerja dengan Damian. Benedict adalah putra bungsu dari tiga bersaudara, kakak pertamanya adalah perempuan yang berbeda usia 7 tahun dengannya, dan kakak keduanya adalah laki-laki yang berbeda usia 3 tahun darinya.
Benedict yang ada dipikiran kalian pasti adalah Benedict yang kompeten, begitu diandalkan dan dipercaya oleh Damian. Namun, dibalik itu Benedict hanyalah seorang putra bungsu yang menyimpan luka.
Keluarga Graham masuk dalam jajaran keluarga konglomerat, jika Manuella berada diurutan pertama, Graham berada diurutan kelima.
Selama hidupnya Benedict hanya dekat dengan 3 wanita, ibunya, kakak perempuannya dan seorang gadis tetangga yang tinggal tidak jauh dari kediamannya.
Menjadi bagian dari Graham membuat Benedict mendapat privilege dalam dunia kerja. Benedict mendapat pilihan dari kedua orang tuanya, jika ia memilih bekerja di perusahaan milik Graham tentu Benedict akan mendapat jabatan tinggi tanpa melalui sebuah persaingan atau promosi jabatan. Namun, jika Benedict memilih bekerja di perusahaan lain, Benedict harus berusaha sendiri untuk mendapatkan posisi yang diinginkannya.
Benedict bekerja di perusahaan Manuella dan ditempatkan di kantor pusat saat usianya baru menginjak usia 22 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan magisternya. Benedict masuk di perusahaan atas kemampuannya sendiri.
Benedict hendak langsung pulang setelah jam kerjanya selesai, namun, dihentikan oleh rekan kerjanya dan memintanya untuk ikut acara makan malam untuk menyambut manager baru mereka.
Awalnya Benedict menolak untuk ikut, akan tetapi semua rekan kerjanya memaksa, membuatnya terpaksa menyetujuinya.
Sudah sekitar satu jam acara makan malam itu dilaksanakan, dan Benedict beberapakali melihat arlojinya. Suara ponsel mengalihkan perhatiannya dan tanpa sadar dirinya tersenyum.
"Aku pergi duluan" ucapnya pamit.
"Kenapa buru-buru sekali, sekarang masih sore. Kamu harus ikut ronde dua" ujar rekan kerja Benedict.
"Maaf, aku punya janji temu lain" tanpa mendengar perkataan yang lain lagi, Benedict pergi meninggalkan restoran.
Di pintu keluar Benedict bertemu dengan manager baru perusahaannya. Benedict bisa mencium aroma tembakau bakar dari tubuh manager itu. Sepertinya dia habis merokok, pikir Benedict.
Benedict menundukkan kepalanya untu menyapa sebagai sopan santun kepada atasannya, dan setelah dibalas Benedict pergi tanpa sepatah katapun.
Damian, manager yang baru dipindahkan oleh ayahnya. Memperhatikan belakang punggung Benedict yang semakin jauh. Damian bisa melihat jika Benedict bertemu dengan seorang gadis SMA, lalu tangannya mengusap puncak kepala gadis itu dengan tersenyum.
"Kenapa jam segini belum pulang?" Tanya Benedict pada Zudith, si gadis SMA.
"Aku memiliki janji temu dengan teman-temanku, tapi tiba-tiba mereka membatalkannya. Karena sudah sampai disini aku pergi ke toko buku untuk beli novel" Zudith menunjukkan kantong belanjanya yang terdapat logo dari toko buku terkenal.
