Seuprit kisah Deva baby era. Maaf kalau tulisannya kurang dimengerti, aku buatnya buru-buru karena takut idenya hilang.
Inspirasi dari reels Ig, ibunya suapi mainan anaknya satu-satu.
Kejadiannya sebelum miniatur pesawat Deva hilang, kalau lupa bisa reread lagi di bab 12.Mama.
Happy reading!!!
Sudah dua Minggu Athalia dibuat frustasi oleh putranya karena selalu menolak makan. Sudah berbagai menu dan cara Athalia lakukan agar putra tunggalnya itu mau makan. Bahkan Athalia sudah konsultasi pada dokter pribadi putranya, namun belum juga membuahkan hasil.
Si kecil hanya mau menerima susu dan bisa menghabiskan dua kali lipat dari takaran yang biasanya. Jika Athalia atau Damian menolak untuk memberikannya, si kecil akan menangis seolah dirinya sangat tersakiti.
Athalia kini akan mencoba lagi untuk memberikan putranya makan siang. Menu makan siang kali ini menu favorit putranya, bakso udang buatan ibunya didampingi dengan ayam kukus dan kentang rebus sebagai karbohidrat.
Athalia melihat putranya masih sibuk bermain dengan pesawat mainannya dan untuk kali ini Athalia akan membiarkan putranya makan sambil bermain.
"Didi, mama punya bakso udang. Didi mau?"
Athalia menusukkan bakso udang menggunakan garpu makan putranya, mencoba membujuk putranya untuk makan.
"No no no." Si kecil menggelengkan kepalanya ribut menghindari bakso udang yang di sodorkan ibunya.
"Didi tidak mau bakso udang buatan amah?"
"No no no." Gelengan kepala masih si kecil berikan.
"Tidak takut bakso udangnya dihabiskan plane?"
Ucapan sang ibu berhasil menarik perhatian si kecil.
"Pyen, mam." Si kecil menyodorkan pesawat putih di tangannya pada Athalia.
"Iya, nanti plane mam habis bakso udang Didi." Athalia menanggapi, meski ia tidak begitu menangkap maksud putranya.
"Pyen, mam." Si kecil masih tetap menyodorkan pesawat itu pada sang ibu.
"Eum, Didi mau mam bersama plane?" Tanya Athalia ragu.
"Pyen, mam, Didi, mam."
Setelah mengetahui keinginan putranya, Athalia dengan semangat menuruti.
Awalnya, Athalia mengira jika ia hanya harus menyuapi satu pesawat yang berada di tangan putranya, namun Athalia salah, ia harus menyuapi satu persatu pesawat yang tengah putranya mainkan. Bukan hanya satu pesawat, jika dihitung terdapat 21 pesawat dengan berbagai bentuk dan ukuran. Itu masih sebagian dari miniatur pesawat yang si kecil mainkan, dan jika dibandingkan sepertinya masih lebih banyak miniatur pesawat putranya dibandingkan foto yang Damian miliki.
Tapi tidak apa, Athalia akan hadapi ini yang terpenting putranya mau makan.
"Papa is home." Sapa Damian pada dua orang tercintanya. Mengecup bibir istrinya dan kening putranya.
Damian bilang hanya akan bekerja setengah hari, maka dari itu ia sudah pulang.
"Welcome home, papa." Sambut Athalia.
"Hom, hom, papa." Seru si kecil.
Damian yang melihat sang istri tengah memegang piring yang berisi menu putranya, menatap Athalia seakan tidak percaya. Sudah mau makan?, itu arti tatapan Damian untuk Athalia.
Athalia mengangguk sebagai jawaban.
"Good boy, baby." Ujar Damian, memberi pujian. Ucapan Damian diikuti oleh si kecil.
"Poy poy." Serunya senang. Si kecil sedang dimasa senang mengikuti ucapan orang lain.
Damian memberikan hadiah berupa miniatur pesawat, kesukaan putranya. Tentunya hal itu disambut dengan sangat senang oleh si kecil. Berbeda dengan si kecil, Athalia justru menghela napas berat, sebab tahu jika pasukan makan putranya bertambah.
"Dear, kenapa?" Tanya Damian, melihat perubahan ekspresi istrinya.
"Kenapa diberikan sekarang, An. Kamu membuat pasukan Didi bertambah." Keluh Athalia.
"Pasukan?"
Athalia menunjukkan pasukan yang dimaksud. Athalia langsung menyuapi putranya dan langsung ditolak oleh si kecil.
"Pyen, mam." Si kecil menyodorkan pesawat yang berada di tangannya kearah sang ibu.
Athalia pun memperagakan seolah menyuapi pesawat itu satu persatu yang yang terakhir menyuapi putranya dan diterima dengan baik.
Athalia memberi tatapan pada Damian seolah mengatakan, "kamu paham sekarang!".
🐼🐼🐼
Keesokkan harinya, Athalia tengah bersiap untuk menyuapi putranya sarapan, namun kini si kecil kembali membawa penolakan, padahal Athalia sudah melakukan hal yang sama seperti kemarin, yaitu menyuapi miniatur pesawat putranya.
"No no no. Mam, pyen." Tolak si kecil, menutup mulutnya.
"Iya, sayang. Mama sudah beri mam plane. Lihat, mama beri mam plane." Athalia memperagakan ulang menyuapi para miniatur pesawat putranya.
"Mam, pyen." Pekik si kecil sebab kesal sang ibu tidak mengerti akan maksudnya.
Athalia berpikir keras, apa yang putranya inginkan. Memperhatikan putranya yang terus memasukkan miniatur pesawat kedalam mulut kecilnya.
Dengan ragu-ragu Athalia meminta asisten pribadinya untuk mensterilkan salah satu miniatur pesawat putranya. Dan ketika asistennya kembali membawa miniatur pesawat yang sudah disterilkan, Athalia menggunakan sayap pesawat itu untuk dijadikan sendok untuk menyuapi putranya.
Athalia menghela napas lega karena suapannya diterima dengan sangat baik oleh putranya. Dan kini kamus bahasa putranya bertambah bagi Athalia.
Fun fact: pesawat yang selalu dipegang Deva itu pesawat kesukaannya sekaligus pesawat pertama Deva Yang Deva pilih sendiri waktu umurnya masih 4/5 bulan. Deva memang punya banyak miniatur pesawat, entah beli lagi atau dikasih sama keluarganya, tapi pesawat kesukaan Deva ya pesawat yang selalu Deva pegang dan gak pernah dilepas kecuali waktu tidur. Deva itu suka sama pesawat, suka lihat pesawat, suka naik pesawat, pokoknya Deva baby era itu bucin pesawat, itu juga alasan Damian beli privat jet untuk hadiah ulang tahun Deva.
Dah segitu aja.
Sebenarnya masih ada lagi kelanjutan kisahnya. Dibalik kejadian miniatur pesawat Deva hilang sampai buat si bayi sakit. Tapi itu kapan-kapan aja ya.
Kamus bahasa Deva baby era:
Pyen: plane
Mam: mamam/makan
Hom:home
Poy poy: good boy
Kosa kata bisa bertambah seiring berjalannya waktu
See you!!!!
