Happy reading!!!!
"Kenapa memanggil papi, Dante?" Tanya Dylan, menghampiri putra keduanya.
"Didi tadi bilang, kalau ingin lihat papi bermain voli" ujar Dante penuh dusta.
"Kamu jangan membohongi papi ya, Didi saja sedang bermain"
"Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Ayden" kata Dante sembari mengode adiknya agar bekerjasama.
"Tadi kami bicara sambil berjalan" ujar Ayden cepat. Takut jika ayahnya tahu kalau itu memang bohongan.
Damian yang melihat adik bungsunya dan sang keponakan hanya menggeleng. Damian bisa melihat jika kedua anak Dylan berbohong. Ia juga tahu jika adiknya pasti tahu jika kedua anaknya berbohong, namun Dylan tidak bisa menolak permintaan anak-anaknya. Sama seperti dirinya.
"Kalau begitu, papi akan tanya pada Didi setelah Didi selesai bermain" kata Dylan, membuat Dante dan Ayden khawatir jika adiknya itu tidak bisa diajak kerjasama.
Namun kekhawatiran mereka pupus ketika Deva ternyata malah mengiyakan pertanyaan Dylan tanpa diberitahu.
"Jo, Ben, kalian ikut" perintah Dylan.
"Kau tidak bisa memerintahnya Dylan, karena atasan mereka adalah aku" kata Damian.
"Tolong kakak pinjamkan mereka, aku tidak ingin menjadi tua sendirian diantara para remaja itu, atau kakak saja yang ikut" ujar Dylan memohon. Akhirnya Damian mengizinkan Joseph dan Benedict ikut dalam permainan bola voli.
"Selagi mereka bermain, bagaimana kalau kita buat minuman" usul Lalitha, yang disetujui Charvi dan Tiffany.
Sandika, Jayendra, Alex, Joseph, dan Benedict melepas atasan mereka karena mereka mengenakan kemeja. Mereka tidak mau ruang gerak mereka terbatas hanya karena kemeja.
Permainan sudah berjalan selama 5 menit, namun banyak penduduk desa yang datang untuk menyaksikan. Mereka datang sebab mendengar jika ada banyak pria tampan yang sedang bermain bola voli.
"Hebat sekali" celetuk Deva ketika melihat permainan keluarganya.
Damian yang mendengar putranya memuji orang lain merasa tidak suka. Rasa bersaing dalam diri Damian seketika naik.
"Papa lebih hebat dari mereka" ujar Damian.
"Papa bisa bermain voli?" Tanya Deva, mendongakkan kepalanya.
"Mau lihat?"
"Mau"
Ditrian yang mendengar obrolan kakaknya hanya bisa menahan tawa. Tidak mau kalah sekali pria itu, pikir Ditrian.
"Bagaimana kalau Yanda ikut bermain juga" ujar Ditrian, kapan lagi bisa membuat kakaknya kesal tanpa harus takut ancaman sang kakak.
"Lebih banyak orang yang bermain, semakin seru" perkataan Deva yang menandakan lampu hijau membuat Ditrian juga ikut permainan.
"Mereka semua ikut bermain" Celetuk Charvi. Tiga wanita baru kembali dari membuat minuman.
Mereka membuat es kuwut Bali, yang terbuat dari melon yang diserut, kelapa muda serut, air kelapa muda, jeruk nipis dan ditambah selasih.
"Didi bisa minumnya?" Tanya Tiffany, dirinya tidak ingin kejadian jus mangga itu terulang lagi.
"Bisa"
"Didi, tolong bagikan dengan teman-teman Didi" pinta Charvi.
"Baik buna".
Deva membagikan es kuwut yang sudah dimasukkan dalam gelas sekali pakai.
