22. The Final Result

6.4K 529 24
                                        

Happy reading!!!!









Hari pembagian rapor tiba. Yang akan menerima rapor para siswa adalah wali murid. Maka dari itu sudah banyak para wali murid datang ke sekolah untuk mengambil rapor anak, adik atau saudara mereka, termasuk Damian yang sudah sampai di sekolah putranya.

Damian melihat putranya berjalan kearahnya, sepertinya untuk menjemput dirinya dan menunjukkan kelasnya.

"Itu kelas Didi, papa" tunjuk Deva pada kelasnya yang berada di tengah.

Damian sudah merasa jika sekolah putranya sangat kurang fasilitas, namun dirinya tidak menyangka jika sekurang itu fasilitas di sekolah putranya, bahkan siswa dalam satu tingkat saja hanya berisi 12 orang. Kursi dan meja sudah banyak yang tidak layak pakai bahkan ada yang diganti dengan bangku plastik yang juga sudah usang. Ingin rasanya Damian memberi fasilitas di sekolah ini, namun dirinya malas berurusan dengan pemerintah. Mungkin nanti akan dirinya lakukan perlahan.

Para wali murid sudah duduk berdampingan dengan anak mereka, tinggal menunggu wali kelas, kelas 3 masuk. Tidak lama guru wanita muda masuk ke kelas dengan membawa rapor dan tiga kotak berbeda ukuran.

Guru itu memberi salam ditambah beberapa saran untuk para wali murid mengenai anak mereka. Setelahnya memanggil satu persatu siswa untuk membagikan rapor.

Baru dua siswa yang dipanggil ponsel Damian bergetar. Damian menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan, berjalan ke sudut kelas agar suaranya tidak mengganggu. Tapi itu tidak berdampak sebab mereka memperhatikan Damian yang tengah berbicara dengan bahasa inggris yang sangat lancar.

"I want the report finished in 2 hours, no extra time" setelahnya Damian memutus panggilan dan kembali ke tempat duduknya lagi.

Tidak lama ponselnya kembali bergetar dan membuatnya terpaksa mengangkat panggilan itu. Dan mereka kembali memperhatikan Damian yang berbicara dengan bahasa yang berbeda.

"Wenn Ihre Präsentationen immer noch schlecht sind, werde ich nicht zögern, Sie alle zu entlassen. Ich brauche keine nutzlosen Mitarbeiter"
("Jika presentasi kalian masih buruk, saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua. Saya tidak membutuhkan karyawan yang tidak berguna").

Damian kemudian menghubungi Benedict untuk menggantikannya dalam rapat.
"Ben, gantikan aku dalam rapat untuk perusahan Jerman. Jika presentasi mereka masih buruk pecat semuanya" kata Damian mutlak. Setelahnya panggilan diputus oleh Damian setelah mendengar jawaban asistennya.

Belum Damian kembali duduk, ponselnya kembali bergetar.
"Ik wil het niet weten, de goederen moeten vanavond afgeleverd worden"
("Saya tidak mau tahu, barangnya harus dikirim malam ini").

Orang yang sangat sibuk, pikir orang-orang yang berada dalam kelas.

"Devananta" panggil si wali kelas.

Damian maju menghadap wali kelas putranya, duduk berhadapan. Wali kelas Deva dibuat terpana dengan wajah tampan Damian. Segera pikirannya ditepis dengan mengucap dalam hati, ingat suami dan anak dirumah.

"Bapak, wali dari Devananta?" Tanya si guru. Yang guru itu tahu jika orang tua Deva adalah Dayat dan Santi yang beberapa waktu lalu meninggal dunia.

"Saya ayahnya" jawab Damian.

"Silahkan tanda tangan disini pak" guru itu menunjukkan nama Deva dalam daftar nama untuk diberikan tanda tangan untuk wali murid.

"Sebelum saya berikan rapor Deva, saya ingin memberitahu beberapa hal tentang Deva selama mengikuti pembelajaran".

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang