33. Anger

4.8K 388 20
                                        


Happy reading!!!











Kembali diwaktu Damian meninggalkan perusahaan!!!

Damian sedang menahan amarahnya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di mansion. Ia juga melonggarkan dasinya, merasa sesak karena amarah.

Damian memarkirkan mobilnya asal-asalan setelah sampai mansion, ia masuk dengan berlari dan mencari keberadaan ibunya. Tanpa perlu mencari lebih jauh, Damian melihat ibunya sedang berbincang dengan seorang wanita seusia ibunya bersama sang ayah.

"Minta tamu ibu pulang, aku ingin bicara!" Ucap Damian menekankan kalimatnya.

"Damian, itu tidak sopan." Ucap Elena merasa tidak enak dengan tamunya.

"Baiklah, itu artinya ibu akan memberi mereka makan dengan hubungan keluarga kita." Damian duduk diseberang sofa berhadapan dengan ibunya.

Dengan terpaksa Elena meminta tamunya untuk pulang, karena melihat putra sulungnya sedang menahan amarah.

"Tutup semua pintu, dan jangan ada yang datang kesini sampai ada perintah!" Ucap Henry memberi perintah pada pelayan dan bodyguard mansion. Karena sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.

"Apa maksud ibu?" Tanya Damian.

"Apa yang kamu bicara Damian, ibu tidak mengerti?" Tanya Elena yang belum menangkap maksud Damian.

"Kenapa ibu membawa wanita itu ke kantor?" Tanya Damian dingin.

"Kirana, apa salahnya. Ibu hanya ingin kalian dekat sebelum menikah." Ucap Elena santai.

"Apa aku pernah setuju untuk menikah?" Tanya Damian yang bukan seperti pertanyaan, namun pernyataan.

"Ibu hanya tidak tega melihatmu sibuk sendiri untuk mengurus pekerjaan dan putramu. Setidaknya jika kamu punya istri lagi ada yang mengurusmu dan putramu, putramu juga masih kecil, masih membutuhkan sosok ibu." Ujar Elena.

"Aku bisa mengurus diriku sendiri dan putraku, ibu tidak perlu mengkhawatirkan itu.

Jadi ibu tidak perlu susah-susah mencarikanku istri, karena bagiku istriku hanya Athalia." Ucap mutlak Damian.

Henry yang sejak tadi hanya menyaksikan perdebatan istri dan anaknya menyela, sebab dirinya tidak mengerti dan tidak tahu apapun tentang pernikahan yang istrinya rencanakan.

"Tunggu, jelaskan ada apa?, siapa Kirana?, pernikahan siapa?" Tanya Henry beruntun.

"Ibu membawa wanita asing ke kantor untuk membuat keributan." Kata Damian.

"Dia punya nama Damian." Timpal Elena kesal.

"Ibu ingin pernikahan bukan?, baik.

Ibu lakukan sendiri. Karena aku tidak akan tinggal disini lagi." Damian berdiri, meninggalkan ruang keluarga menuju pintu utama.

Elena yang awalnya senang, mengira jika putranya menyerah merasa marah seketika.

"Ibu tenang saja, besok pagi semua barangku sudah tidak ada termasuk milik putraku." Tambah Damian sebelum benar-benar pergi.

Damian keluar bertepatan dengan mobil milik Sandika sampai, ia menunggu putranya keluar dari mobil dan menyambutnya, memberi pelukan dan kecupan di seluruh wajah putranya.

"Didi, Rowan meminta kita untuk datang ke rumahnya." Ucap Damian.

"Sekarang?" Tanya Deva.

"Iya."

"Didi mandi dulu." Deva hendak melangkah masuk, namun dicegah oleh Damian dengan di gendong.

"Didi bisa mandi disana." .cap Damian yang terdengar tanpa bantahan.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang