Happy reading!!!!
Dihari kelima Deva di rawat, keluarga Baron datang berkunjung. Baron mendengar Deva sakit saat salah satu staff perkebunan tengah membicarakan putra pemilik perkebunan yang keracunan.
Sebelum berkunjung, tentunya Baron sudah menghubungi Damian lebih dulu melalui Joseph.
Pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit, Baron, sang istri dan ketiga anaknya terkagum-kagum akan kemegahan bangunan itu dan dalam pikiran mereka pasti biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit jika berobat ke rumah sakit itu.
Kedatangan keluarga Baron sudah ditunggu oleh Joseph di lobby rumah sakit untuk mengantarkan mereka ke ruang rawat Deva.
Mereka menuju ruang rawat Deva menggunakan lift. Joseph menekan tombol 17, atau ruang rawat dengan fasilitas terbaik di rumah sakit itu.
"Kotaknya dingin, mamak." Bisik Cika yang berada dalam gendongan sang ibu.
Ruang rawat Deva hanya beberapa meter dari pintu lift. Ketika sampai didepan pintu ruang rawat, Joseph mengetuk pintu itu dan memberitahukan kedatangan keluarga Baron.
"Tuan, keluarga bapak Baron sudah datang." Ujar Joseph.
Setelah mendapat sahutan dari dalam, Joseph menggeser pintu itu dan mempersilahkan keluarga Baron untuk masuk lebih dulu.
Joseph berpamitan dan membungkukkan badannya setelah keluarga Baron masuk.
"Devaaa." Seruan Banu dan Farhan membuat Deva senang.
"Banu, Farhan, jangan berisik." Peringat Baron.
Istri Baron memberikan sekantong bingkisan hasil buatannya sendiri pada Damian. Bingkisan itu berisi beberapa jenis kue kering. Istri Baron sangat bingung akan membawa apa, sebab dirinya tau jika keluarga Deva bisa dengan mudah mendapatkan semuanya. Dan kini dirinya sedikit sungkan ketika memberikan bawaannya, hanya melihat ruangan Deva yang lebih besar dari rumahnya saja membuatnya berpikir kalau buah tangannya pasti hanya akan dianggap remahan.
"Terimakasih." Icap Damian, ketika menerima bingkisan dari istri Baron.
Damian dan Baron sedikit berbincang mengenai kondisi Deva. Baron sangat sungkan saat bicara dengan Damian, terlebih melihat pakaian Damian yang sangat rapi dan pasti sangat mahal. Berbeda sekali dengan dirinya yang hanya membeli di pasar.
"Deva, diinfus sakit gak?" Tanya Banu penasaran.
"Agak sakit, apalagi waktu dokter suntik obatnya." Jawab Deva.
"Waktu disuntik kamu nangis enggak?" Tanya Farhan, berniat menggoda Deva.
"Enggak dong, emangnya kamu waktu ada imunisasi di sekolah malah sembunyi di WC." Bantah Deva, dan membalikkan keadaan.
"Bibi kesininya pakai apa?" Tanya Deva.
"Bibi pakai travel, nanti siang udah harus pulang karena supirnya pulang siang juga." Jawab istri Baron.
"Keadaan Deva gimana, udah enakan?" Tanyanya.
"Iya bibi, tapi kadang Deva masih lemes kalau gerak banyak-banyak."
"Itu artinya Deva harus istirahat dulu yang banyak, jangan sampai capek." Ucap istri Baron memberi nasehat yang dibalas dengan anggukan oleh Deva.
30 menit setelah keluarga Baron datang, kini Deva kedatangan lagi dua tamu yang sangat ia kenal. Zayn dan Marcel.
"Deva, I miss miss you so much." Zayn dan Marcel memeluk Deva, menyalurkan rasa rindunya yang sudah 5 hari tidak bertemu.
"I miss you too." balas Deva.
