35. Visit

4K 354 10
                                        


Happy reading!!!!











Deva bangun lebih awal dari sang ayah, ia melihat ayahnya masih terpejam dengan memeluk dirinya dan sebelah tangannya yang menjadi bantalan. Belum ada niat untuk beranjak dari tidurnya, malah Deva semakin masuk dalam pelukan sang ayah, mencari kehangatan dan kenyamanan disana.

Pergerakan Deva membuat Damian terbangun, lalu tangan yang memeluknya mengusap belakang kepala Deva hingga kebelakang leher, mengecup puncak kepala putranya sedikit lama.

10 menit keduanya masih bertahan dengan posisi yang sama, tanpa bicara. Perlahan kantuk kembali menghampiri Deva, sebab merasa nyaman dengan usapan sang ayah.

Damian yang melihat putranya akan tertidur lagi masih terus mengusapnya. Setelah merasa putranya kembali terlelap, Damian beranjak dari ranjangnya secara perlahan, takut membangunkan sang putra. Ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi.

Damian melakukan olahraga ringan di balkon selama 45 menit, dari push up, sit up, skipping dan beberapa olahraga ringan lainnya. Setelah berolahraga, Damian kemudian masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Deva bergerak dari tidurnya, perlahan matanya terbuka, membiasakan cahaya agar bisa melihat dengan jelas. Deva berdiam diri untuk mengumpulkan kesadarannya, kemudian duduk dengan pandangan kosong karena masih mengantuk. Melihat sekeliling kamar tidak terdapat sang ayah, membuat Deva ingin mencarinya namun terhenti ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Deva duduk diam menunggu sang ayah selesai mandi. 5 menit kemudian, Damian keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang dililitkan di pinggangnya, melihat putranya yang sudah bangun dan sedang duduk membuat Damian menghampiri putranya.

Damian duduk disisi ranjang kemudian mengecup sudut pelipis putranya dan berucap lembut.

"Papa, pakai baju dulu, ya." Ucapnya, lalu mengecup kening putranya yang membalas ucapan Damian dengan deheman.

"Em."

Damian keluar dari ruang pakaian, ia mengenakan kaos hitam polos berlengan pendek dan celana bahan hitam panjang, membuat kadar ketampanan Damian semakin bertambah. (Bapak Damian dengan outfit serba hitamnya, gak akan ada yang bisa nolak).

"Masih mengantuk?" Tanya Damian, setelah duduk disisi ranjang, merapikan rambut putranya yang berantakan.

"Tidak, Didi hanya malas bergerak." Balas Deva.

Suhu udara pagi cukup dingin meski matahari sudah terlihat dan sepertinya akan menjadi hari yang cerah, meski suhu ruangan sudah dinaikan agar tidak terlalu dingin, namun suhu udara dari luar masih tetap terasa.

Karena suhu udara yang dingin membuat Deva merasakan sakit di hidungnya dan terasa tersumbat membuat pernapasannya hanya berfungsi sebelah. Ujung jari tangan dan kakinya juga terasa gatal, namun tidak menimbulkan ruam, hanya saja membuat Deva serba salah sebab saat ingin diusap tidak menimbulkan reaksi melegakan atau yang lainnya. (Aku bingung jelasinnya gimana, tapi sepengalaman aku, gatalnya itu kayak megang es batu yang bisa lengket terus dipegang lama jadi kerasa gatel dan beku, nah pas diusap atau digaruk kayak itu bukan tempat yang gatel, jari-jari aku juga rasanya agak kaku. Bingung aku jelasinnya).

"Papa, jari Didi gatal." Adu Deva, menunjukkan telapak tangannya yang jari-jarinya sedikit memerah.

"Sebentar, papa Carikan obat dulu." Damian dengan panik mencari obat putranya yang selalu tersedia di laci nakas samping ranjangnya.

Obat oles alergi putranya selalu Damian sediakan di setiap ruangan, bahkan tas sekolah putranya selalu Damian masukkan dan dirinya juga membawanya kemanapun sebagai antisipasi.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang