44. Poisoning

3.7K 336 37
                                        

Happy reading!!!!






















Deva sedang mencari kontak ayahnya dari smart watch yang selalu dipakainya ketika sekolah.

Hanya satu deringan panggilan Deva sudah terhubung dengan sang ayah dengan menampilkan wajah Damian yang masih berada dalam ruangan.

"Halo, sayang." Sapa Damian.

"Papa~." Seru Deva.

"Iya, sayang, ini papa." Sahut Damian.

"Didi ingin minta izin, Didi ingin lihat Koko Ai bermain basket. Jadi Didi pulang bersama Koko Ai." Yutur Deva, meminta izin pada sang ayah. "Bolehkan, papa?" Sambung Deva, ketika sang ayah tidak menanggapi ucapannya.

"Boleh, sayang. Jika sudah selesai hubungi papa. Papa will pick up didi." Balas Damian.

"Okay. Didi love papa😘."

"Papa loves Didi more."

Setelah sambungan telepon ditutup, Deva memberitahu sang kakak jika ayahnya memperbolehkan dirinya.

Keduanya kini sedang berada di taman membaca, teman-teman Deva dan Ayden juga ikut bergabung.

Tidak sampai satu menit, ponsel diatas meja milik Ayden bergetar, menampilkan kontak milik pamannya, ayah dari Deva. Tanpa menunda, Ayden menarik ikon hijau untuk menyambungkan panggilan.

"Iya, pa?" Ucap Ayden.

"Beritahu papa jika latihanmu sudah selesai." Ujar Damian.

"Didi bisa pulang bersamaku, papa jangan khawatir." Balas Ayden.

"Iya atau tidak." Ucap Damian tegas.

"Baiklah." Ayden membalas pasrah.

Ayden memiliki jadwal ekstrakurikuler yang diikutinya yaitu, basket. Sudah beberapa kali sang adik ikut untuk melihatnya bermain basket, dan terkadang dirinya mengajari sang adik.

"Didi, tunggu disini, Koko akan ganti baju dulu." Ucap Ayden. Ia meminta adiknya duduk disalah satu bangku tribun pinggir lapangan untuk melihatnya bermain basket.

Ayden meninggalkan tas sekolahnya bersama Deva, ia hanya membawa goodie bag berisi sepatu dan jersey.

Para anggota club mulai berkumpul ditengah lapangan termasuk Ayden. Mereka tengah melakukan pemanasan untuk menghindari terjadinya cedera.

"Mau susu?" Seorang gadis menawarkan sekotak susu untuk Deva, lalu duduk disebelah Deva. "Ambil saja, aku juga bawa sendiri." Sambungnya ketika Deva tidak segera mengambil susu pemberiannya.

"Terimakasih, kak... Michella." cap Deva, menyebut nama si gadis yang dibacanya dari name tag.

Susu varian coklat itu Deva minum tanpa ragu. Deva mengernyit ketika merasakan susu yang diminumnya terasa aneh, namun ia tepis.

Dua jam Ayden mengikuti latihan basket, ia juga sudah menghubungi sang paman 15 menit yang lalu.

Deva dan Ayden keluar dari gedung olahraga bertepatan dengan mobil kesayangan milik Damian masuk ke area sekolah.

"Didi happy?" Tanya Damian, setelah melajukan mobilnya.

"Hum. Didi is very happy." Deva.  mengangguk antusias.

Ditengah menikmati pemandangan jalanan, Deva merasakan perutnya sakit seperti ingin buang air besar.

"Papa, perut Didi sakit." Adu Deva. Deva tengah memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang