32. Gossip

4.7K 395 21
                                        

Ini baru real chapter 32 nya.

Tadinya aku mau update setelah nonton live anniversary nya exo, tapi aku malah ketiduran.

Oh iya, ada sedikit fun fact buat chapter April mop kemarin, yaitu latar waktu kejadiannya kejadian konflik pertama di alur cerita asli. Tambahan juga, kalau aku buat chapter khusus alurnya bisa maju bisa mundur.












Happy reading!!!!

















Ini hari kelima Deva bersekolah, Deva mengenakan pakaian olahraga karena bertepatan dengan senam yang setiap satu Minggu sekali dilakukan.

Damian dan Deva kini tengah berada di kantor. Setelah menjemput putranya dari sekolah, Damian membawa putranya ke kantor sebab ia memiliki meeting penting yang tidak dapat ditunda. Karena tidak ingin meninggalkan putranya sendirian, Damian memanggil Sandika agar menemani putranya dan dengan senang hati Sandika menyanggupinya.

Sandika membawa Deva ke tempat kerjanya sebab masih ada sedikit pekerjaan yang belum selesai.

Semua pasang mata yang ada di ruangan lantai tempat Sandika bekerja menatapnya dan sang adik dengan berbagai tatapan.

"Didi bosan?" Tanya Sandika pada adiknya yang duduk di pangkuannya karena tidak ada kursi kosong untuk adiknya duduk.

"Tidak, Koko kerja saja." Balas Deva.

Sandika memberikan ponselnya pada Deva untuk dimainkan selagi menunggunya menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya Sandika membawa Deva untuk berkeliling perusahaan. Meski ini ketiga kalinya Deva datang ke kantor, namun belum Deva kelilingi semua, hanya lantai 31 yang pernah ia datangi.

"Kita mau kemana?" Tanya Deva yang berada dalam gendongan Sandika.

Sandika membawa Deva memasuki lift untuk karyawan biasa, kemudian menekan tombol menuju lobby.

"Hanya berkeliling." Jawab Sandika.

Wajah Deva terus dikecup oleh Sandika selama lift berjalan. Karena lift yang Sandika naiki untuk karyawan biasa tentunya banyak karyawan yang keluar masuk dari lift.

Mereka yang melihat Sandika tengah menggendong anak kecil merasa terkejut sebab yang mereka tahu jika Sandika adalah orang yang anti interaksi atau bergaul dengan manusia, semakin terkejut ketika melihat Sandika terus mengecupi wajah anak itu.

Karena tidak tahu ingin membawa adiknya kemana, akhirnya Sandika membawanya menuju kantin dengan melewati meja resepsionis. Kantin perusahaan keluarganya sangat lengkap, selain ada makanan berat ada juga camilan dari tradisional hingga modern dan ada stand minuman yang rasanya tidak kalah dengan coffee shop terkenal atau mewah.

"Didi mau apa?" Tanya Sandika, ia membawa adiknya ke stand camilan.

Deva menunjuk kue bulat hijau yang dibaluri kelapa parut yang didalamnya terdapat gula merah yang saat masuk kedalam mulut akan terasa lumer, kue berbentuk segitiga yang ditaburi kelapa parut juga disiram dengan gula merah cair, dan stick keju.

"Memakannya di kantin?" Tanya Sandika.

Deva menolak dengan menggelengkan kepalanya, "tidak mau, ditempat Koko saja." Ucapnya.

Sandika menuruti permintaan adiknya, keduanya akan kembali ke meja kerja Sandika yang juga harus melewati meja resepsionis.

Beberapa meter sebelum meja resepsionis, Sandika dan Deva mendengar sedikit keributan antara staff resepsionis dan seorang wanita.

Sandika hendak mengabaikan dan melanjutkan perjalanannya, namun tertunda oleh wanita yang mencari keributan itu datang menghampirinya dan sang adik.

"Tunggu." Seru wanita itu yang sudah berdiri dihadapan Sandika dan Deva.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang