59. Accident

2.7K 220 6
                                        

Happy reading!!!!"





Sepeda sudah bersih, Deva sudah berganti sepatu, begitu pula dengan Hazellio yang sudah berganti celana. Kini saatnya mereka melaksanakan keinginan Deva yang ingin bermain scooter.

Marvelion, atau Elion dengan sepedanya, Hazellio dengan skateboard nya, dan si pemeran utama dengan scooter berwarna putih kuningnya.

"Didi, bawa scooter nya jangan kencang-kencang, oke!" Peringat Hazellio, sebelum mereka pergi.

Ketiganya tidak pergi terlalu jauh, hanya berkeliling komplek perumahan tempat Adrian tinggal.

Beberapa tetangga menyapa Hazellio dan Deva yang sudah beberapa kali mereka lihat.

"Ngasuh, Zel?" Tanya salah satu teman komplek Hazellio, sebagai basa basi ketika Hazellio akan melewatinya.

"Iyaa."

Awalnya, mereka menikmati kendaraan masing-masing dengan santai. Tiba-tiba saja, Deva melajukan scooter miliknya dengan cepat, hingga membuat laju scooter bertambah.

"Didi, jangan kencang-kencang!" Peringatan Hazellio, tidak Deva hiraukan.

Kaki Deva terus menambah laju kecepatan scooter nya. Sampai akhirnya Deva tidak bisa mengendalikan scooter miliknya dan berakhir Deva terjatuh karena menabrak pembatas jalan. Deva terjatuh diarea rumput. Meski jatuh diarea rumput, Deva tetap merasakan sakit, terutama pada area rahang sebab Deva sempat terbentur stang scooter.

Seketika tangisan Deva terdengar, perasaan sakit dan malu hinggap menjadi satu, sebab ada beberapa orang yang melihat kejadian dan menghampirinya.

Hazellio segera menghampiri adiknya, membiarkan skateboard miliknya tergeletak sembarangan, tanpa peduli jika harga skateboard itu memiliki harga setara dengan 5 bulan uang jajannya.

"Astaga, Didi." Ucap Hazellio, panik.

Marvelion juga ikut mendekati Deva, dilihatnya wajah Deva sudah memerah dengan air mata yang terus mengalir serta berulang kali mengucapkan kata 'papa'.

"Hu-huuuwaaa... Papa."

"Papa, huks sakit, papa."

Deva terus saja memanggil ayahnya, dibanding Hazellio yang berada dekat dengannya.

"Koko gendong, kita pulang agar Didi bisa diobati." Kata Hazellio, siap menggendong Deva.

Deva menolak ketika Hazellio, akan menggendong dirinya.

"Tidak mau. Mau papa." Tolak Deva, disela tangisannya.

"Iya, nanti Koko hubungi papa. Sekarang kita pulang dulu." Bujuk Hazellio.

Tidak ada lagi penolakan setelah itu dari Deva, saat Hazellio menggendongnya. Akhirnya, ketiganya pulang dengan Deva membawa luka akibat terjatuh. Salah seorang tetangga Hazellio, membantu membawakan skateboard dan scooter mereka. Sedangkan Marvelion, menuntun sendiri sepeda yang ia gunakan.

Ketika sampai di rumah, tangisan sudah mereda, menyisakan sesenggukan.  Tiffany, yang melihat kedatang ketiganya dibuat khawatir ketika melihat Deva dalam gendongan dalam keadaan menangis.

"Koko, adiknya kenapa bisa menangis?" Tanya Tiffany, penuh kekhawatiran.

"Didi, tadi jatuh ma." Kata Hazellio, memberitahu ibunya.

"Bu Tiffany, boleh siapkan air, kain bersih yang lembut dan p3k." Pinta seorang pria, yang datang bersama Hazellio, karena membantu membawakan skateboard dan scooter.

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang