38. Long Time No See

3.7K 326 10
                                        

Happy reading!!!!














Deva menunggu guru lesnya sambil membaca buku tentang flora dan fauna, ditemani buah potong sebagai camilan. Ia membaca di ruang keluarga agar langsung bisa melihat orang yang akan menjadi guru lesnya. Disamping Deva terdapat sang ayah yang sedang bekerja.

"Papa, What does 'muzzle' mean?" Tanya Deva. Buku yang sedang dibaca oleh Deva ditunjukkan kearah sang ayah.

"Muzzle artinya moncong, bagian tubuh hewan yang terdiri dari hidung dan mulut. For example, wolf, pig, dog, dan sebagainya." Damian menunjukkan bagian yang ia jelaskan pada sang putra.

Terlihat halaman yang terdapat gambar sekelompok serigala berwarna abu-abu dan dibawahnya terdapat penjelasan tentang serigala.

Tidak lama, seorang pelayan datang menghampiri Damian dan memberitahukan jika ada seorang tamu yang datang dan memberitahu jika dia adalah guru les sang tuan muda.

"Tunggu sebentar, papa mau menemuinya dulu." Ucap Damian pada sang putra.

Setelah menunggu beberapa menit, Deva melihat sang ayah kembali dan dibelakangnya diikuti oleh seorang pria yang tidak asing bagi Deva.

"Didi, dia yang akan menjadi guru lesnya." Jelas Damian.

Damian dibuat terkejut dengan seruan keras putranya ketika menyebut nama si guru les.

"PAK RIAN." Seru Deva dengan suara keras.

"Didi mengenalnya?" Tanya Damian.

"Iya, pak Rian yang ajari Didi waktu ikut olimpiade." Sahut Deva senang.

Sedangkan Rian masih membeku, ia terkejut dengan apa yang terjadi. Apakah matanya tidak salah lihat, ketika dihadapannya ada Deva, murid yang dulunya ia bimbing. Bagaimana Deva bisa ada disini, pikir Rian.

"Rian, ini putraku, yang akan menjadi murid anda." Ucap Damian, dengan nada datar.

"Saya mengerti, tuan." Ucap Rian, menundukkan sedikit kepalanya.

Damian memberitahukan pada Rian, tempat untuk belajar. Damian memberikan pilihan tempat yang akan digunakan, tentunya sesuai keinginan sang putra.

"Perpustakaan, ruang tamu, paviliun, dan taman bisa digunakan, tanyakan saja pendapat putraku." Ujar Damian, ia membuka pintu perpustakaan kecil, atas permintaan sang putra yang ingin belajar disana.

"Jika saya tidak ada, anda bisa bicara padanya jika membutuhkan sesuatu." Tambah Damian, menunjuk Joseph yang sejak tadi sudah mengikuti.

"Saya mengerti, tuan." Ucap Rian.

"Good luck, sayang." Ucap Damian, mengecup puncak kepala dan kening putranya lama sebelum putranya masuk ke ruang perpustakaan.

Rian terkejut dengan perubahan sikap Damian ketika berbicara padanya dan saat berbicara dengan Deva. Saat bicara dengannya, Damian begitu datar dan formal, sementara saat berbicara dengan Deva, nadanya sangat lembut dan penuh kasih sayang.

"Deva senang sekali yang jadi guru lesnya pak Rian." Ujar Deva, terlihat dari wajahnya jika Deva sangat senang.

"Saya juga, senang dan tidak menyangka kalau yang jadi murid saya itu kamu, Deva." Timpal Rian. "Long time no see, Devananta" Rian menyambung ucapannya.

Awal pembelajaran Rian tidak langsung memberi materi, namun membahas soal-soal yang belum Deva pahami dan materi terakhir di sekolah.

"Deva, tuan Damian itu ayah kamu?" Tanya Rian. Pertanyaan itu sejak tadi Rian tahan ketika melihat Deva dan pernyataan dari Damian.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang