19. Opa, Oma

7.6K 554 7
                                        

Happy reading!!!!










Deva dan teman-temannya kini sedang bermain kucing-kucingan saat jam istirahat di lapangan. Satu orang harus menjadi penjaga, ditutup matanya dan yang lainnya harus menghindari tertangkap oleh penjaga. Selain penjaga, yang ikut bermain kucing-kucingan berjumlah 13 anak, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka tidak dari satu kelas yang sama, beberapa dari mereka ada dari tingkatan kelas diatas Deva. (Kalau lupa, Deva itu kelas 3 SD).

"Gak boleh keluar garis loh" peringat si penjaga.

Permainan dilakukan sampai bel berbunyi tanda masuk kelas.

Setelah pulang sekolah dan berganti pakaian menjadi pakaian harian, teman-teman Deva datang ke rumahnya. Seperti biasa setelah pulang sekolah mereka akan bermain. Kali ini mereka tidak bermain di lapangan melainkan di rumah Deva, atas permintaan Deva.

Deva membawa keluar dua box permainan balok yang sebelumnya ia mainkan dengan saudaranya dan monopoli.

"Mau main Jenga apa monopoli?" Tanya Deva memberi pilihan pada teman-temannya.

"Main monopoli gak bisa banyak yang ikut, ada yang main Jenga, ada yang main monopoli, nanti gantian" usul Banu yang disetujui oleh semuanya.

"Kasih tau dulu main Jenga gimana" kata Farhan, mereka masih asing dengan permainan Jenga yang Deva bawa.

Deva menjelaskan pada teman-temannya cara bermain Jenga, setelah mereka mengerti mereka membagi tim antara yang bermain Jenga dan monopoli.

6 orang bermain monopoli dengan dua papan yang berbeda, sedangkan 8 orang bermain Jenga juga dengan dua balok susun yang berbeda. (Jadi mereka mainnya per tiga orang buat monopoli, per empat orang buat main Jenga).

Mereka bermain sangat serius, apalagi yang bermain Jenga, takut jika balok yang akan dikeluarkan terjatuh dan membuatnya kalah.

Mereka bermain sampai sore hari sampai melupakan es kul-kul yang mereka buat jika tidak diingatkan oleh Cika.

"Kakak Deva, makan es kul-kul nya kapan?"

"Oh iya, es kul-kul" seru Deva yang baru teringat. Yang lain pun tidak menyadari jika melupakan buah beku itu.

"Om, coklatnya mana?" Tanya Deva pada Joseph.

"Sudah saya bawakan, Didi"

"Kita gak bakal bisa habisin semua es kul-kul nya" kata Banu.

"Kita makan satu atau dua, abis itu dibagi terus bawa pulang aja" usul Dendi. Usulan Dendi diterima oleh mereka.

"Coklatnya enak sekali kakak Deva, lebih enak coklat ini dari pada tempat mbak es kul-kul" aku Cika.

"Iya, kakak Deva juga baru rasa coklat ini" kata Deva setuju. "Om juga makan" Deva menyodorkan es kul-kul pada Joseph yang diterima baik oleh Joseph.

Meski tidak pernah mengalaminya, Joseph merasa bernostalgia ke masa kecil saat makan bersama-sama para anak-anak desa itu.

Sisa buah yang tidak habis mereka bagi rata lalu dibawa pulang masing-masing .

🍀🍀🍀🍀

Sekarang hari Minggu, dimana sekolah libur. Sekolah Deva libur hanya di hari Minggu, sedangkan sekolah Imanuel libur di hari Sabtu dan Minggu, dan Ayden sudah berada di desa sejak Sabtu pagi bersama sepasang paruh baya.

Orang tua Damian datang hari Sabtu kemarin. Mereka baru mendengar jika cucu mereka sudah ditemukan sebab Damian tidak memberitahunya bahkan tidak mengizinkan siapapun memberitahunya.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang