Meeting

119 5 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.




Musik : With



Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.





Kamu & Kenangan





Hanna memilih untuk merapikan rambutnya yang sudah mirip seperti singa dengan jari-jari tangan begitu menyadari lift akan segera berhenti pada lantai milik unit nya.

Lalu ketika lift berdenting dan pintu terbuka Hanna langsung melangkah keluar dari kotak besi tersebut. Melangkah dengan pelan menuju ke unit nya. Handphone yang sejak tadi memang di tinggal karena sedang mengisi daya merupakan hal yang pertama di tuju nya begitu pintu unit nya terbuka. Melangkah kaki menuju meja di samping tempat tidur untuk melihat apakah ada notifikasi, dan tenyata memang benar. Hendra menghubungi dirinya di sertai dengan beberapa pesan yang juga ikut masuk.

Setelah membalas pesan Hendra yang tenyata mendapatkan ceklis satu dirinya memilih untuk menonton tv. Engan untuk makan sekarang sebab perutnya masih dalam kondisi kenyang setelah ngemil dengan Gio tadi.




"Mas ini gimana sih saya kan pesan bukan jenis kayu yang ini," kata Hanna kepada supir truk yang datang pada lokasi proyek.

Sopir truk yang jadi lawan bicara kali ini pun berujar, "Saya nggak ngerti masalah kayu yang Mbak pesan, saya cuman dapat perintah untuk antar kayu nya kesini."



Di tengah matahari yang bersinar cukup terik tepat diatasnya Hanna malah harus berdebat dengan sopir truk yang mengatasnamakan kayu yang tenyata tidak sesuai keinginan nya.



Di tengah matahari yang bersinar cukup terik tepat diatasnya Hanna malah harus berdebat dengan sopir truk yang mengatasnamakan kayu yang tenyata tidak sesuai keinginan nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jadi kayu ini saya bawa balik lagi?"

"Bawa balik aja terus tapi uang nya saya nggak mau kasih lunas," kata Hanna tegas.

"Yah jangan gitu dong Mbak, kesepakatan nya kan kalau kayu nya di antar sampai sini Mbak kasih lunas uangnya. Ini kok malah macam begini urusannya."

"Kayu nya salah bukan kayu yang saya mau. Rugi saya dan klien saya kalau ikut bayar." Perempuan yang sudah menggunakan helm keamanan itu menyahut kesal.

Kamu & Kenangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang