Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Dear Reader By Taylor Swift
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.
Kalo ada boleh langsung komen di samping.
Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.
Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.
Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.
Kamu & Kenangan
Bercerita kepada orang yang tepat ternyata banyak memiliki manfaat. Saleh satunya manfaat yang mungkin saja dirasakan oleh hampir seluruh orang adalah tersalurnya rasa yang sedang mereka rasakan. Entah itu rasa sedih, kesal, bingung atau bahkan bahagia.
Tak semua orang yang bercerita berharap mendapatkan solusi atau mungkin masukan atas hal yang sedang di ceritakan.
Mereka mungkin hanya perlu sekedar di dengar tanpa perlu di tanya banyak hal.
Hal ini tentu saja berlaku bagi Hanna yang baru saja mencurahkan keresahan nya kepada Kia sahabat pada masa TK nya yang dipertemukan kembali.
"Sumpah gue tuh selalu suka kalau makan bisa lesehan gini tau nggak?" ucap Kia. Perempuan yang sudah duduk pada lantai yang dilapisi karpet bulu halus oleh Hanna yang biasa tempat dirinya beribadah, berubah jadi tempat makan mendadak mereka.
"Emang nya lo nggak suka kalau duduk di atas kursi?"
Kia mengeleng membatah ucapan Hanna sebab dirinya sedang mengunyah makanan. "Bukan nggak suka, tapi kurang leluasa gini."
"Iya deh. Seleluasa lo aja."
"Kalau bisa sekalian ambil cuti ayok lah kita sesekali nginap di villa gitu. Nggak usah jauh-jauh, Bandung juga boleh. Kita kan nggak pernah tuh nginap selama lo kerja di sini," usul Kia tepat setelah perempuan itu selesai menghabiskan dua piring nasi.
"Boleh deh. Gue kemana aja juga mau. Kita nginap di apart gue juga gas mah."
"Jangan lah. Gue mau jadi turis. Jadi kita harus keluar kota nggak papa nggak jauh."
"Atur aja. Biar bisa gas dari sekarang."
"Bukannya yang biasa banyak planning nggak jadi ya." Kia berujar ringan sambil berjalan ke arah wastafel.
"Kalau nggak ada planning nggak jalan lah. Mau ngerjain apa tanpa susunan nya?" Hanna memilih untuk mencolek lengan Kia mengunakan sisa sabun yang menempel pada jari-jarinya.
"Hanna!!" pekik Kia kesal.
"Salju lokal," tawa Hanna sambil kembali melanjutkan cuciannya.
Mendengus kesal karena mendengar gurauan Hanna, Kia memilih untuk melemparkan tumbuhnya pada kasur sang teman sambil menyetel tv yang tentu saja di saksikan Hanna dengan tawa lebar.
"Kurang asam lo tau nggak."
"Santai aja kali."
"Op-op." Hanna kembali mencolek dagu Kia kali ini setelah mengelap tangannya dengan tisu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu & Kenangan
Romance"Gue suka sama lo Kak." Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan. Sudah cukup sepuluh...
