"Gue suka sama lo Kak."
Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan.
Sudah cukup sepuluh...
Boleh nggak untuk kali ini saya minta komen untuk part ini. Biar bisa semangat nulisnya?
Semoga aja kalian mau meninggalkan beberapa kalimat untuk part ini. Di tunggu jejak kalian semuanya.
Terimakasih 💗
Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Mantra By Diamansyah Laitupa
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.
Kalo ada boleh langsung komen di samping.
Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.
Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.
Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.
Kamu & Kenangan
Hidup terlalu banyak memberikan kejutan kepada semua penghuni bumi itu benar adanya. Baik itu kejutan yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan.
Tapi yang pasti, bumi yang bentuknya masih jadi tanda tanya entah itu berbentuk bulat atau petak. Pasti selalu memberikan kita kejutan yang uh. Mengagumkan sekaligus menakjubkan. Ya semoga saja.
Usai mendegar rentetan kalimat yang diucapkan Parno perempuan yang sudah mengikat rambutnya menjadi satu itu karena ingin makan usai urusan dengan kayu selesai tampak menghela nafas berkali-kali.
"Makanannya nggak enak?" tanya Gio ketika melihat Hanna tampak mengaduk-aduk makanan tersebut tanpa niat memakannya.
"Nggak kok Kak," sahut Hanna setelah tersadar dari lamunannya.
"Lalu kenapa nggak makan? Mau pindah resto?" Gio langsung bangun dari posisi duduknya hingga membuat Hanna buru-buru mencegah dengan berujar cepat.
"Nggak usah, gue nggak masalah kok Kak dengan tempat makan ini," cegah Hanna membuat Gio menatap kearahnya dengan penuh penasaran seolah mencoba mencari kebohongan yang mungkin saja ada.
"Gue lagi nggak bohong Kak, jadi lo nggak usah tatap mata gue sebegitunya," canda Hanna.
"Lalu mau coba pesan yang lain?" tawar Gio lagi sambil duduk.
"Nggak. Bento ini udah cukup kok." Lalu dengan satu sendok penuh Hanna menyuapkan kedalam mulutnya makanan tersebut seolah meyakinkan kepada Gio kalau restoran dan menu makan siang nya ini tidak salah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.