Kamu yang kuharap kan

365 8 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.

Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.








Kamu & Kenangan.







Saat akan tiba di depan penjual tiket Hendra tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, yang tentu saja otomatis membuat langkah Hanna juga ikut berhenti.

Hanna menatap Hendra dengan heran. "Kenapa?"

"Kamu yakin mau main es skating?" tanya Hendra tiba-tiba.

Hanna menatap sang pacar dengan penuh keheranan. Kenapa pula Hendra harus bertanya lagi di saat tadi dirinya sudah menyetujui mereka untuk bermain.

"Kenapa emangnya?"

"Kamu lagi pakek rok. Nggak masalah kalo nanti jatuh?"



Hanna tampak melihat kembali penampilan nya dari atas sampai bawah selama beberapa saat. Dirinya tentu tidak menyadari pakaian yang tengah digunakan saking sangat semangat untuk bermain. Hanya helaan nafas kesal yang bisa di hadiahkan.

Padahal baru beberapa menit yang lalu dirinya memuji penampilan nya pada hari ini, tapi saat ini dirinya malah dibuat tak berminat untuk melakukan aktivitas apapun.

Dengan perasaan kesal yang berusaha di tahan dirinya pun memilih untuk pergi dari sana. Meniggalkan keinginan nya untuk berseluncur di atas es.

Hendra yang melihat kepergian Hanna itu pun buru-buru menyusul  sang pacar. Membawa langkah kakinya untuk bisa sejajar dengan Hanna, sebelum membawa kembali tangan Hanna untuk di genggamnya.



"Gimana kalo kita lihat orang main aja? Atau kalo kamu emang lagi kepengen banget kita beli celana aja," tawar Hendra.

"Nggak. Nggak usah," balas Hanna pendek.


Mendegar jawaban sang kekasih yang membuat dirinya tak puas pada akhirnya Hendra pun memilih untuk membawa sang pacar naik ke lantai dua mengunakan eskalator. Bergabung dengan orang-orang yang berbincang hangat dengan orang-orang yang mereka sebut dekat.

Karena sudah terlanjur kesal Hanna memilih untuk menurut saja kepada sang pacar akan membawa kemana dirinya.


"Tunggu aku disini bentar ya," pesan Hendra setelah mendudukkan dirinya pada kursi yang tersedia di mall.


Hana mengangguk. Engan berucap apapun. Perempuan itu duduk sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya dengan pembicaraan.

Hingga tak lama kemudian Hendra kembali datang dengan membawa dua cup minuman yang sangat sering dirinya nikmati jika ke mall.


"Minum dulu. Mana tau coklat bisa bikin kamu bahagia walupun sedikit," ucap Hendra. Memberikan satu cup minuman itu kepada dirinya.

Hanna menerima pemberian sang pacar. Menikmati sensasi minuman yang selalu jadi favoritnya dengan ditemani Hendra yang memperhatikan dirinya.

Kamu & Kenangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang