Menemani

166 1 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.





Cause You Have Tou By LANY





Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.







Kamu & Kenangan






"Iya." Freya mengangguk semangat. "Semua orang amat sangat mungkin untuk mengingkari janji nya jadi kita butuh jaminan."

"Pengalaman pribadi nih ceritanya," goda Livia yang tentu saja di angguki oleh remaja itu semangat. Walupun setelahnya dirinya dapat melihat lihat tatapan penuh tanya dari Andrew yang sejak tadi memantau ulahnya.

"Freya habis lo. Ini mah senjata makan tuan!!" Kaivan berseru semangat begitu melihat tatapan penuh intimidasi dari Andrew.

"Salah lo Kak Livia nih, mancing gue!!" serunya heboh dan juga kesal.

"Habis lo Frey, di tanya habis-habisan sama Bang Andrew entar pas pulang," ucap Evan berseru tak kalah heboh.

"Eh-eh ini kok malah nyalahin gue sih," goda Livia, "gue kan nggak maksud untuk bongkar aib lo. Eh nggak tau nya emang benar pengalaman pribadi. Itu mah salah lo Frey, yang nggak bisa jaga mulut padahal pawang lo ada di sini."

Tak tega melihat raut kesal sang sepupu membuat Yuni kembali berujar. "Nginap di rumah kami aja Frey, entar bisa pulang bareng gue dan Indah kalau lo nggak nyaman di rum—"

"Kak Yuni," panggil Andrew pelan seraya menatap sang sepupu dengan raut datar.

"Oke-oke kali ini gue nggak bakal bantu Frey, kok," balas Kak Yuni sambil tersenyum kecil, sebelum kembali menatap Freya dengan tatapan kasihan. "Ada Tante kan di rumah Frey? Karena gue nggak bisa bantu lo. Tapi kalau nggak ada Tante, saran Kak Yuni kamu jujur aja deh."

Freya menghela nafas lelah sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang lumayan empuk.

"Oke. Kita skip ya. Untuk masalah internal nya boleh di bahas di kediaman masing-masing untuk sekarang kita bahas ini dulu. Freya silahkan lanjutkan kembali ucapan kamu." Nataya kembali membuka suara sambil menatap Freya dengan tatapan hangat. Untuk saat ini ia akan mencoba menenangkan si bungsu walupun mungkin nanti dirinya tak bisa membantu banyak. Karena kalau boleh jujur yang paling tegas dalam hal mendidik adalah Andrew. Pria itu jelas sangat seram dan disiplin dalam hal mendidik dibanding Bang Juan yang masih menerima toleransi. Apalagi ini Freya, sang anak bungsu di keluarga Pratama generasi keempat dan anak bungsu bagi sang abang kandung Andrew yang selalu menjaga Freya agar tetap berjalan di jalan yang lurus dan mulus. Walaupun mereka memberikan usul tetap saja Andrew punya hak lebih dalam diri dan kehidupan Freya setelah ayah mereka.



Pada detik ini Nataya baru menyadari alasan Tuhan. tak memberikan dirinya dan Juan adik perempuan mereka sebab didikan mereka tak sekeras Andrew dalam hal mendidik. Kalau boleh mengakui Nataya sering kali memaklumi setiap kesalahan yang adik-adik mereka lalui. Khususnya Evan sang adik kadung, mungkin oleh sebab itu Evan banyak tingkah karena dirinya yang tak menekan Evan. Tak apa, karena tanpa disadari siapapun ia cukup puas dengan Evan sekarang. Baik buruk maupun hidup lelaki itu. Nataya akan dengan bangga memperkenalkan Evan sebagai adik kandungnya tanpa embel-embel Pratama di belakang nama mereka.



Kamu & Kenangan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang