Titik Usai

231 3 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.







Ku Ingin Pisah By Nabila Taqiyyah








Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.











Diantara bumi seluas ini aku tetap senang pernah menemukanmu juga sempat mengira kamu orang yang tepat. Meski bukan, tapi mengira saja sudah membuatku bahagia.

Rintik Sedu.







Kamu & Kenangan






Di umur 25 seharusnya sudah banyak hal yang dicapai. Hal itu mungkin saja meliputi karier, kemandirian finansial, dan kesadaran akan masa depan, atau ke luar negeri sekedar untuk heling, nonton konser Bruno Mars sampai Singapore negara yang paling dekat dengan Indonesia, atau mungkin menikah jikalau datangnya lebih cepat. Bukanya putus seperti dirinya.




Iya putus.





Bahkan baru beberapa jam yang lalu dirinya merasa bahagia karena berhasil tiba di satu kota yang sama dengan pacar yang mungkin akan segera berganti status.



Miris.





Kisah percintaannya memang miris. Padahal mereka sudah merencanakan banyak hal, hanya tinggal menentukan tanggal baiknya dan akhirnya, akan sampai pada final yang mereka sama-sama inginkan.




"Ayok putus Hanna."




"Hen, kamu serius?" Hanna bertanya lirih.

Lelaki itu mengangguk yakin. "Aku belum cukup yakin sama diri aku sendiri Hanna. Aku nggak mau melibatkan kamu di saat aku sendiri masih ragu sama diri aku sendiri."

"Tapi— tapi kita udah merencanakan banyak hal," kata Hanna. Walupun sebelumya dirinya sudah menduga akan hal ini. Tapi tetap saja mendegar Hendra berkata langsung membuat dirinya kesakitan.



"Aku tau. Tapi aku nggak mau hal ini bakal merusak banyak hal. Kamu terlalu baik untuk lelaki jahat seperti aku Han," lirih Hendra.

"Aku nggak butuh kata-kata itu Hen, aku juga masih ada kurang. Jadi mari kita perbaiki dan mulai semuanya. Bahkan aku udah cari WO dan beberapa refrensi gedung untuk acara penting kita. Tapi kenapa malah gini…." Hanna benar-benar menangis tersedu kali ini. Tangis yang di dengar siapapun dapat menyimpulkan bahwa perempuan itu telah merencanakan banyak hal untuk kehidupan di fase baru.


"Han, maaf." Hendra membawa telapak tangan Hanna untuk di genggam walaupun pada akhirnya di tepis perempuan itu dengan kasar.

"Kenapa harus gini Hen… kenapa harus kata putus di akhir kisah kita. Apakah ketidak yakinkan kamu nggak bisa aku sembuhkan… kita bisa aja habiskan banyak waktu agar kamu kembali yakin… aku—"

Kamu & Kenangan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang